Literasi Digital Jadi Modal Utama Mahasiswa dalam Menghadapi Era AI

Seminar literasi digital IISIP
Sumber :
  • istimewa

img_title Upayakan Media Sosial yang Ramah dan Santun, Kominfo Gandeng Pemuka Agama Berikan Literasi Digital

Siap- Program Studi Ilmu Komunikasi IISIP Jakarta menggelar seminar bertema “Kecakapan Komunikasi di Dunia Digital” di kampus IISIP Jakarta. Tujuannya, sebagai modal utama mahasiswa dalam menghadapi era AI.

Selain itu juga bertujuan meningkatkan kemampuan komunikasi dan literasi digital agar mahasiswa mampu beradaptasi dengan kebutuhan era 5.0.

img_title Iran Bidik Titik Lemah Trump, Konflik Diprediksi Terus Berlanjut

Praktisi komunikasi digital, Asrul M. Mustaqim mengatakan, sangat penting mampu berkomunikasi digital di era informasi yang cepat dan mudah menyebar.

Asrul menjelaskan konsep 4C Leadership yang meliputi Curiosity (rasa ingin tahu), Clarity (kejelasan dalam menyampaikan pesan), Complexity (kemampuan memilah informasi digital), serta Capacity (kapasitas meningkatkan kualitas kerja).

img_title Teheran Perluas Strategi Hadapi Amerika, Selat Hormuz Jadi Kunci Tekanan Iran

“Kemampuan komunikasi kini bukan hanya soal bicara, tetapi bagaimana kita menafsirkan informasi dengan benar agar tidak terjebak misinformasi,” katanya, Senin (22/12/2025).

Selain itu, peserta juga dikenalkan kompetensi abad ke-21, yaitu komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan kreativitas.

Menurut Asrul, kemampuan ini penting dalam menyampaikan pesan secara efektif di ruang digital, bekerja sama lintas platform, memverifikasi informasi untuk menghindari hoaks, dan menghasilkan konten kreatif.

“Literasi digital merupakan ‘mata uang baru abad ke-21’ karena membuka peluang ekonomi dan mendorong terciptanya dunia kerja yang lebih inovatif. Ia menjelaskan enam aspek penting literasi digital yang menjadi dasar komunikasi modern,” tegasnya.

Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya, Wijaya Kusumawardhana mengatakan, media sosial memberi peluang besar bagi generasi muda untuk berpartisipasi dalam ruang publik.

“Media sosial bisa menjadi alat pemberdayaan, tetapi juga sumber konflik. Literasi digital adalah kunci agar masyarakat mampu menggunakan teknologi dengan bijak,” katanya.

Fenomena polarisasi, misinformasi, serta ruang gema yang terjadi di media sosial menuntut masyarakat lebih selektif saat mengakses informasi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Wijaya mengenalkan konsep literasi digital berbasis masyarakat melalui Sistem Informasi Desa (SID) dan kolaborasi Pentahelix.

Program ini dinilai berhasil menjembatani kesenjangan digital sekaligus membuka ruang partisipasi untuk pemuda dan perempuan dalam pengelolaan informasi desa.

Wijaya juga mengenalkan konsep CABE, yaitu Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital dan Etika Digital.

Halaman Selanjutnya
img_title