Memahami Lebih Utuh Tradisi Ruwatan dan Artinya

Ruwatan
Sumber :
  • Istimewa

SiapRuwatan jamak dilakukan dalam masyarakat pedesaan. Bagi pelaksanaannya, tradisi ruwatan sebagai ritual tolak bala atau pengusiran roh jahat dan pengaruh tidak baik dalam diri atau komunitas tertentu. Namun, apa sebetulnya ruwatan itu?

img_title Ini Klarifikasi Lengkap Penasehat DPC POM Tumbang Titi Terkait Ritual Adat di PT RSM dan BGA Group

Mengapa sampai sekarang sebagian masyarakat kita masih percaya dan bahkan tetap melalukan ritual ruwatan? Tentu semua ini tidak terlepas dari tradisi yang melekat dalam komunitas ataupun kelompok masyarakat kita.

Ruwat dalam bahasa Jawa memiliki arti lepas atau dibebaskan. Pelaksanaan ritual tersebut disebut dengan ngruwat atau ruwatan, yang berarti melepaskan atau membebaskan.

img_title Ketua POM Ketapang Tegaskan Ritual Adat di PT RSM dan BGA Group Tidak Sah!

Upacara ini biasanya bertujuan untuk melepaskan sesuatu yang berhubungan hal mistis yang tersimpan dalam tubuh, seperti kutukan dewa yang menimbulkan bahaya, malapetaka, atau keadaan yang menyedihkan.

Ritual ruwatan dapat juga berarti dipulihkan atau dikembalikan pada keadaan semula, atau menolak bencana yang diyakini akan menimpa pada diri seseorang, mentawarkan atau menetralisir kekuatan gaib yang akan membahayakan.

img_title Ketua POM Ketapang Klarifikasi Ritual Adat di PT RSM dan BGA Group Tak ada Izin

Tradisi ruwatan dilakukan sebagai suatu permohonan agar manusia diselamatkan dari gangguan dan bencana yang mengancam hidup dan kehidupannya.

Melalui ruwatan, manusia merasa terlindungi oleh kekuatan besar yang dipercaya sebagai kekuatan penyelamat.

Dilansir laman resmi Kemendikbud, dalam ritual ruwatan biasanya digelar pertunjukkan wayang. Wayang ialah bentuk pertunjukan tradisional yang disajikan oleh seorang dalang dengan menggunakan boneka atau sejenisnya sebagai alat pertunjukan.

Pergelaran wayang kulit ini biasanya melakoni kisah Murwakala. Tujuannya, agar orang yang diruwat hidup selamat dan bahagia, terlepas dari nasib jelek.

Dalam kisah wayang Murwakala, seorang putera bernama Salah Kededen mendadak berubah menjadi raksasa jahat dan memangsa manusia yang masuk dalam kategori Sukerta.

Sukerta berarti orang yang cacat, yang lemah, dan tak sempurna. Karena itu, orang tersebut harus diruwat, artinya dibersihkan atau dicuci agar bersih. Konon, kelompok manusia Sukerta yang tidak diruwat akan menjadi mangsa batara kala.

Seperti yang dinukil dari buku Bratawidjaja karya Thomas Wiyasa, yang berjudul Upacara Tradisional Masyarakat Jawa (1988), orang-orang yang termasuk golongan Sukerta, antara lain pertama, Ontang-anting: anak laki-laki tunggal dalam keluarga, tak punya saudara kandung.

Halaman Selanjutnya
img_title