Tradisi Sembayang Kubur, Warga Tionghua Bakar Replika Kapal Wangkang

Ritual Sembahyang rebut di Yayasan Bhakti Suci Kubu Raya
Sumber :
  • Ngadri/siap.viva.co.id

VIVA – Warga keturunan Tionghua menggelar ritual sembahyang kubur di Yayasan Bhakti Suci, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, pada Kamis 28 Agustus 2026.

img_title Warga Batu Ampar Geruduk DPRD Kubu Raya, Keluhkan BBM Langka dan Aktivitas Tambang Bauksit

Ritual Sembahyang Rebut merupakan bagian dari rangkaian penghormatan kepada leluhur. Kegiatan tersebut antara lain diisi dengan sembahyang kubur hingga pembakaran replika Kapal Wangkang.

Bagi masyarakat Tionghoa, rangkaian ritual itu memiliki makna spiritual dan kultural. Tradisi tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus simbol pengantaran menuju nirwana.

img_title Iran Pasang Batas bagi Kapal Perang AS, Blokade Selat Hormuz Berlanjut

Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa S. Aktadivia mengatakan, ritual sembahyang rebut meruapakan salah satu tradisi budaya masyarakat Tionghoa yang hingga kini masih hidup dan dijalankan secara turun-temurun.

 “Ini adalah kegiatan masyarakat kita, masyarakat Tionghoa, sebagai suatu budaya. Ada kegiatan sembahyang kubur hingga pembakaran Kapal Wangkang. Ini merupakan bentuk penghargaan kepada leluhur untuk mengantarkan leluhur ke nirwana,”ujar Rensa.

img_title Geger, Seorang Pria di Kubu Raya Ditemukan Tewas Menggenggam Kabel Listrik

Rensa menambahkan, Ritual Sembahyang Rebut dan pembakaran replika Kapal Wangkang bukan sekadar kegiatan keagamaan dan budaya masyarakat Tionghoa. Tradisi tersebut juga telah tercatat sebagai agenda resmi Pemerintah Kabupaten Kubu Raya.

Menurut dia, keberadaan tradisi seperti ini menunjukkan bahwa Kubu Raya memiliki kekayaan budaya yang tumbuh dari keberagaman masyarakatnya.

Bagi Rensa, kehadirannya dalam ritual tersebut juga menjadi pengalaman baru. Ia mengaku baru pertama kali menyaksikan secara langsung rangkaian Ritual Sembahyang Rebut dan pembakaran replika Kapal Wangkang.

“Untuk kegiatan ini kali pertama bagi saya. Ini juga merupakan suatu pengalaman yang baru,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rensa mengatakan, tradisi itu tidak hanya berbicara tentang ritual. Di dalamnya terdapat ingatan, penghormatan, kebersamaan, serta hubungan antargenerasi yang terus dirawat. Ia berharap kegiatan tahunan tersebut dapat terus berlangsung dan menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi masyarakat.

Menurut dia, keberagaman etnis merupakan bagian penting dari kehidupan sosial di Kabupaten Kubu Raya. Karena itu, setiap tradisi masyarakat perlu ditempatkan sebagai kekayaan bersama yang dapat memperkuat hubungan antarmasyarakat.

“Semoga dengan adanya kegiatan ini juga mempererat tali silaturahmi sesama etnis yang ada di Kubu Raya,”pungkasnya.