Como 1907 'Warisan' Hartono yang Dibanggakan Publik Italia

Wajah Hartono (Bos Djarum) terpampang di Stadion Como
Sumber :
  • Istimewa

Siap – Duka mendalam atas kepergiaan Michael Bambang Hartono turut dirasakan sejumlah warga Italia. Terlebih bagi para pemain dan pendukung setia Como 1907.

img_title 15 Pemain Como 1907 Perkuat Tim Nasional, Kapten Lucas Da Cunha dan Jean Butez Pertama Kali Masuk Timnas Senior Prancis

Bagaimana tidak, sosok yang dikenal sebagai Bos Djarum itu memiliki peran yang sangat besar bagi prestasi klub Serie A tersebut. 

Dilansir dari kanal YouTube GARUDA TIMNAS, jika biasanya suporter fanatik Italia benci pemilik asing, tapi hari itu, 19 Maret 2026, satu kota di Italia menangis karena seorang pria asal Kudus, Indonesia baru saja berpulang. 

img_title Como 1907 Milik Bos Djarum Menggebrak UCL, Jejak Debutan Legendaris Terungkap

Ini bukan soal uang triliunan, tapi soal bagaimana Michael Bambang Hartono menyelamatkan sebuah klub dari kematian, dan mengubahnya jadi kekuatan baru di Serie A yang ditakuti.

Di saat pemilik klub lain pamer kemewahan, Bos Djarum bekerja dalam senyap.

img_title Tak Hanya Como, Ini 7 Tim Debutan Pendobrak Eropa: Nomor 6 Disokong Bos Djarum

Membangun stadion dan memenangkan hati rakyat Italia tanpa perlu banyak bicara. 

Lantas gimana caranya Hartono bersaudara ini bisa bikin legenda sekelas Fabregas sampai berkaca-kaca di depan kamera? 

Kenapa skor 5-0 lawan Pisa beberapa hari lalu disebut sebagai kado perpisahan paling emosional dalam sejarah liga? 

Menelisik kebelakang, Como 1907 itu bukan Inter Milen, bukan Juventus. Mereka cuma klub kecil yang tadinya main di Serie D, yakni kasta keempat Liga Italia. 

Kondisinya mengenaskan. Bangkrut, stadionnya rusak, fasilitas latihannya memprihatinkan, dan masa depannya gelap gulita.

Di titik terendah itu, masuklah Grup Djarum melalui Saint Entertainment. 

Saat itu publik Italia bertanya-tanya, "Siapa Hartono, orang terkaya di Indonesia? Mau apa mereka di sini?" 

Biasanya pemilik klub kaya itu sombong. Datang pakai jet pribadi, beli pemain bintang harga selangit cuma buat pamer. 

Terus kalau bosan klubnya ditinggal bangkrut lagi. Tapi Bambang Hartono dan Robert Hartono berbeda. 

Mereka enggak pakai cara raja minyak yang buang-buang uang tanpa otak. Bos Djarum mulai dengan satu prinsip, respect the history. 

Dia enggak ganti nama stadion, dia enggak ganti warna jersey yang sakral, dan dia enggak menjanjikan bulan dan bintang dalam semalam.

Dia justru bilang, "Kita akan bangun ini pelan-pelan dari bawah dengan fondasi yang kuat." 

Halaman Selanjutnya
img_title