Piala Super UEFA: PSG Kandaskan Tonttenham di Detik Akhir, Kekalahan Paling Tragis Sepanjang Masa?
- Istimewa
Siap –Drama adu penalti akhirnya memupuskan langkah Tottenham Hotspurs meraih juara Piala Super UEFA yang sudah di depan mata lantaran PSG berhasil comeback di detik detik akhir laga.
Diketahui, Spurs yang telah berhasil unggul 2-0 hingga menit akhir berhasil dipaksa PSG untuk menjalani drama adu penalti.
Alhasil, drama adu penalti berakhir tragis bagi Tottenham Hotspurs.
Seperti diketahui, Spurs sejatinya akan keluar menjadi juara setelah unggul lebih dulu di babak pertama, Micky Van de Ven berhasil membobol gawang PSG dan mengubah skor menjadi 1-0 dan bertahan hingga turun minum.
Tak sampai disitu, Spurs kembali menambah keunggulan di awal babak kedua lewat skema bola mati, tendangan Pedro Porri berhasil ditanduk dengan sempurna oleh Cristian Romero.
Bahkan hingga menit ke 84 Spurs kian berada diatas angin lantaran unggul 2-0 dari PSG, sehingga trofi Piala Super UEFA sudah di depan mata.
Namun nahas, mental juara PSG tak goyah sedikitpun meski tertinggal 2-0, mereka berhasil comeback dengan memperkecil ketertinggalan lewat gol Lee Kang-in sehingga skor berubah menjadi 2-1.
Puncak dramatis laga tersebut terjadi saat Goncalo Ramos berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 di menit 94, alhasil duel panas penuh drama itu baru berkahir dengan adu penalti.
Jelalahnya, drama adu penalti dimenangkan oleh PSG sehingga membuat Spurs yang sejatinya keluar menjadi juara dan mengangkat trofi akhirnya gagal.
Disisi lain, PSG berhasil mengangkat trofi pertama Piala Super UEFA yang diraih setelah berhasil menyingkirkan Tottenham.
Sontak hal tersebut langsung menjadi sorotan, terlebih kepada pelatih baru Spurs Thomas Frank yang ditunjuk menggantikan Ange Postecoglu.
Meski harus menahan rasa perih lantaran kalah dramatis di detik detik akhir, performa Spurs di bawah arahan Frank memberikan sedikit harapan bagi para pendukungnya.
Banyak dari mereka yang kecewa dengan manajemen klub di bawah pemilik Daniel Levy dan berencana melakukan protes.
Permainan yang solid, meski berakhir pahit, bisa menjadi sinyal positif di awal era kepelatihan Frank.