Iran Tak Bergeming Hadapi AS, Pernyataan IRGC Picu Sorotan
- Istimewa
Siap – Iran kembali menunjukkan sikap keras terhadap Amerika Serikat dengan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap ditutup hingga seluruh tuntutan Teheran dipenuhi.
Di tengah ketegangan tersebut, Garda Revolusi Iran (IRGC) juga mengklaim telah menangkap sebuah drone mata-mata milik militer AS di kawasan barat selat strategis itu.
Juru bicara IRGC, Hossein Mohebi, menyatakan Selat Hormuz kini berada di bawah kendali angkatan bersenjata Iran.
Menurut dia, jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi global tersebut tidak akan dibuka kembali sebelum seluruh persyaratan Republik Islam Iran dipenuhi.
“Selat Hormuz saat ini berada di bawah kendali strategis angkatan bersenjata Iran dan tidak akan pernah dibuka sampai kondisi Republik Islam terpenuhi sepenuhnya,” papar Mohebi, dikutip dari kantor berita Fars, Kamis (29/10/2026).
Mohebi turut menuduh Washington berupaya melumpuhkan kemampuan nuklir dan rudal Iran.
Namun, ia mengklaim tujuan tersembunyi Amerika Serikat adalah memastikan rencana “Israel Raya” dapat diwujudkan.
Pernyataan tersebut memperlihatkan sikap Teheran yang tetap tegas di tengah ketegangan dengan Washington.
Kendali atas Selat Hormuz menjadi persoalan penting karena jalur tersebut memiliki peran strategis dalam perdagangan minyak dan gas dunia.
Di tengah situasi itu, IRGC mengklaim berhasil menangkap sebuah drone mata-mata Amerika Serikat di sebelah barat Selat Hormuz.
Kantor berita Iran, IRNA, melaporkan Angkatan Laut IRGC menyatakan unit peperangan elektronik mereka berhasil mendaratkan drone MQM-170 dalam kondisi utuh.
Menurut keterangan Angkatan Laut IRGC, pesawat tanpa awak tersebut diduga digunakan untuk memetakan sistem pertahanan udara Iran di sepanjang pesisir Teluk Persia dan kawasan Selat Hormuz.
“Berdasarkan informasi yang diambil dari pesawat ini oleh para spesialis Angkatan Laut IRGC, diketahui bahwa asal penerbangan pesawat tersebut berada di pesisir salah satu negara di sisi selatan Teluk Persia,” demikian pernyataan itu.
IRGC menyebut drone itu sebagai pesawat pengintai sekaligus penipu milik militer AS.
Meski demikian, klaim penangkapan tersebut belum disertai verifikasi independen dalam laporan yang dirujuk.
Sebelumnya, IRGC juga mengumumkan bahwa sebuah drone MQ-1 jatuh di wilayah udara sebelah timur Selat Hormuz.
Di sisi lain, terdapat indikasi bahwa Washington tengah berupaya membuka komunikasi dengan Teheran untuk meredakan ketegangan.
Analis Ihsan Alkhatib menilai langkah Wakil Presiden AS JD Vance menghubungi pejabat tinggi keamanan Iran menunjukkan adanya keinginan dari Washington untuk mencegah konflik berkembang lebih jauh.
Dalam keterangannya kepada Al Jazeera, Alkhatib mengatakan upaya tersebut mencerminkan kecenderungan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk melewati jalur komunikasi resmi yang dianggap tidak efektif.
Washington, menurut analisisnya, berupaya menjalin kontak langsung dengan pihak-pihak yang berada di lingkaran pengambil keputusan Iran.
Sebelumnya, Trump mengatakan telah menyetujui langkah Vance untuk menghubungi Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, terkait kebutuhan bantuan pasokan medis.
Sementara itu, sejumlah media Amerika Serikat melaporkan bahwa Vance telah mengirim surat kepada Rezaei yang berisi desakan agar kedua pihak melakukan negosiasi perdamaian.
Meski komunikasi antara Washington dan Teheran dilaporkan mulai dijajaki, sikap tegas IRGC mengenai Selat Hormuz menunjukkan bahwa kendali atas jalur pelayaran tersebut masih menjadi salah satu persoalan utama dalam hubungan kedua negara.