Data Intelijen Bocor, Iran Bersiap Hadapi Perang Besar AS-Israel
- Istimewa
Siap – Republik Islam Iran kembali membaca adanya tanda-tanda perang besar akan pecah. Teheran menilai Amerika Serikat dan Israel sedang menyiapkan skenario perang skala penuh.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, Teheran, Iran mengeklaim mendapat informasi soal rencana serangan baru Amerika Serikat.
Lalu apakah konflik ini akan kembali memasuki fase perang? Teheran meyakini Amerika Serikat dan Israel sedang menyiapkan skenario perang skala penuh.
Akademisi Iran, Mostafa Khoshcheshm menyampaikan pandangan itu kepada Al Jazeera.
Menurutnya, berbagai skenario yang berkembang menunjukkan resiko konflik yang lebih besar.
Karena itu, Teheran perlu menyiapkan respon keras dan tidak hanya mengandalkan diplomasi.
"Teheran meyakini bahwa semua skenario menunjukkan AS dan Israel sedang bersiap untuk perang skala penuh," katanya.
Salah satu pilihan yang disebut dapat digunakan Republik Islam untuk menekan AS adalah membatasi akses kapal melalui Selat Hormuz.
Jalur ini merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan energi dunia.
Khoshcheshm menilai, pembatasan dalam waktu tertentu dapat mendorong harga minyak naik, dan menambah tekanan ekonomi terhadap AS.
Al Jazeera melaporkan arus minyak melalui Selat Hormuz juga telah turun tajam dibandingkan sebelum perang.
Kekhawatiran Teheran meningkat setelah Republik Islam mengeklaim mendapat informasi intelijen tentang rencana serangan baru Amerika Serikat.
Teheran menyebut Washington sedang mempersiapkan kampanye pengeboman baru.
Klaim ini muncul saat Donald Trump memperpendek kunjungannya ke Camp David, Maryland, dan kembali ke Gedung Putih pada Sabtu malam, 19 September 2026.
Ia menyebut sejumlah pilihan terhadap Teheran mulai dari tekanan militer, tekanan ekonomi, hingga kesepakatan.
Sejumlah pemerintah di Timur Tengah pun meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan eskalasi baru.
Iran memperingatkan serangan baru akan dibalas dengan menyasar pangkalan dan kepentingan Amerika Serikat di kawasan.
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC juga mengisyaratkan respon dapat menjangkau aset militer Amerika Serikat di sekitar Teluk Oman hingga laut Arab.
Namun di tengah ancaman itu, pejabat Iran menegaskan bahwa Teheran tidak menginginkan perang berkepanjangan.
Ketegangan ini berlangsung bersamaan dengan memanasnya konflik Houthi dan Arab Saudi di Yaman.
Houthi melancarkan dua operasi militer besar menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone yang menyasar Riyadh serta fasilitas Aramco di Yanbu pada Sabtu, 19 September 2026
Arab Saudi menyatakan telah mencegat rudal-rudal tersebut. Amerika Serikat menilai Houthi mendapat dukungan Iran.
Sedangkan Teheran membantah keterlibatan dalam serangan itu.
Konflik Houthi turut meningkatkan tekanan di Selat Bab Al Mandab, salah satu jalur utama pelayaran antara Laut Merah dan Asia.
Sementara itu, Selat Hormuz tetap menjadi titik penting dalam konflik Teheran dan Washington.
Tekanan di dua jalur pelayaran ini dapat mengganggu arus perdagangan dan pasokan energi internasional.
Meski menyiapkan respon militer, Republik Islam masih membuka jalur diplomasi melalui mediator.
Melalui Qatar, Teheran menyiapkan syarat untuk kembali bernegosiasi dengan Amerika Serikat.
Syarat itu antara lain mengakhiri perang di semua front, memulihkan aset Iran yang dibekukan, dan menghentikan blokade laut.
Artinya, Teheran menjalankan dua jalur sekaligus menyiapkan respon militer sambil mempertahankan komunikasi diplomatik.
Ketegangan ini juga akan menjadi agenda Trump dalam sidang umum PBB di New York.
Trump dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin negara untuk membahas Republik Islam, Yaman, Gaza dan keamanan kawasan.
Trump juga terbuka untuk bertemu dengan Presiden Masoud Pezeshkian.
Namun, Teheran sebelumnya menunjukkan preferensi untuk bernegosiasi melalui perantara, bukan bertemu langsung dengan Washington.
Hingga kini belum ada konfirmasi bahwa Amerika Serikat dan Israel telah memutuskan untuk memulai perang skala penuh.
Namun, Teheran mengeklaim mendapat informasi soal serangan baru.
Sementara Amerika Serikat tetap mempertimbangkan sejumlah opsi terhadap Republik Islam.
Di saat yang sama, konflik hati dengan Arab Saudi meningkat Selat Hormuz dan Bab Al Mandab tetap menjadi titik rawan.
Jalur diplomasi melalui Qatar juga masih terbuka. Lantas apakah diplomasi mampu mencegah eskalasi atau kawasan ini akan kembali memasuki fase perang?
Ultimatum Keras dari Teheran
Sementara itu, dikutip dari Tasnim News, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia Iran kembali memperingatkan AS dan negara-negara kawasan.
Mereka mengingatkan, bahwa tindakan permusuhan apa pun terhadap Republik Islam akan memicu serangan yang berkelanjutan, efektif, dan menyakitkan terhadap posisi serta kepentingan mereka di kawasan tersebut.
Dalam pernyataan yang dirilis pada hari Minggu, markas besar tersebut menyatakan bahwa AS berupaya menutupi kegagalannya dan menciptakan keuntungan semu dari perang agresi terhadap Teheran.
"Berdasarkan informasi yang diterima, AS yang kriminal dalam upaya menutupi kegagalannya dan meraih keuntungan semu dalam perang yang dilancarkan berdasarkan kebohongan serta rekayasa kaum zionis, dan dilanjutkan melalui tipu daya serta kelicikan telah sekali lagi memutuskan, dengan lampu hijau dari beberapa negara kawasan, untuk melanjutkan tindakan terhadap Republik Islam menyusul pertemuan bersama di salah satu negara Eropa," bunyi pernyataan tersebut.
"Kami memperingatkan bahwa jika AS melakukan kesalahan apa pun terhadap Republik Islam Iran, seluruh posisi dan kepentingannya di kawasan akan menjadi sasaran serangan yang berkelanjutan, efektif, dan menyakitkan, tanpa batasan atau pertimbangan apa pun," tambahnya.
Markas besar tersebut juga memperingatkan negara-negara kawasan agar tidak memihak pada agresi AS terhadap Iran.
"Kami memperingatkan bahwa jika negara-negara kawasan dengan terus menerapkan kebijakan standar ganda terhadap Republik Islam memihak pada agresi 'Setan Besar' terhadap Iran yang Islami dan tangguh, mereka semua akan dianggap sebagai kaki tangan dalam tindakan keliru ini dan tidak dapat lagi mengharapkan sikap menahan diri atau kesantunan dari Angkatan Bersenjata Iran yang perkasa," tegas pernyataan itu.