Konflik Iran-AS Meluas, Negara Teluk Kini Dihadapkan pada Pilihan Sulit
- Gemini AI
Siap – Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai memberikan tekanan besar terhadap keseimbangan hubungan Washington dengan negara-negara Teluk.
Sejumlah negara Arab yang selama ini menjadi mitra dekat AS kini semakin aktif membuka jalur komunikasi dengan Teheran.
Perubahan sikap tersebut terlihat ketika konflik memasuki bulan keenam.
Negara-negara Teluk menghadapi risiko langsung akibat meningkatnya serangan terhadap infrastruktur strategis, terutama fasilitas energi, pembangkit listrik, dan instalasi desalinasi.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, sedikitnya 172 serangan terhadap infrastruktur nonmiliter tercatat terjadi di enam negara Teluk selama enam bulan konflik berlangsung.
Hampir separuh serangan tersebut menyasar fasilitas yang berkaitan dengan minyak, gas, kelistrikan, dan kebutuhan air bersih.
Kondisi itu membuat sejumlah negara Arab harus menghitung ulang posisi mereka di tengah perseteruan Washington dan Teheran.
Bagi negara-negara Teluk, persoalannya bukan hanya menentukan siapa yang menjadi sekutu.
Mereka juga harus memastikan konflik tidak berkembang menjadi ancaman langsung terhadap perekonomian, keamanan energi, dan proyek-proyek strategis di kawasan.
Tekanan terhadap sektor energi menjadi salah satu faktor utama.
Selat Hormuz menjadi titik paling penting karena sebelum perang sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia melewati jalur sempit tersebut.
Hingga kini, lalu lintas komersial di Selat Hormuz masih terbatas.
Iran dan Oman sebelumnya menyepakati rute maritim sementara untuk menjaga sebagian aktivitas pelayaran tetap berlangsung.
Teheran menyatakan pembukaan penuh jalur tersebut bergantung pada pemenuhan komitmen Amerika Serikat dalam kesepakatan damai sementara yang sebelumnya telah berakhir.
Tekanan terhadap negara-negara Teluk juga muncul dari serangkaian serangan yang menyasar fasilitas strategis.
Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan tersebut, Iran dan kelompok yang didukungnya disebut melakukan sedikitnya 172 serangan terhadap infrastruktur nonmiliter di enam negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC).
Sekitar 48 persen dari serangan itu berkaitan dengan fasilitas minyak dan gas, pembangkit listrik, serta instalasi desalinasi.
Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain termasuk negara yang mencatat serangan terbanyak.
Infrastruktur energi menjadi salah satu sasaran utama dalam rangkaian serangan tersebut.