BEM UI Sebut Punya Tesis Kalau Prabowo Ingin seperti Soeharto

Mahasiswa UI hendak berangkat demo ke Bundarah HI
Sumber :
  • siapviva

Siap – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) kembali melakukan aksi demo di Bundaran Hotel Indonesia (HI).

img_title FIK UI Hadirkan Solusi Lewat Program AYEM TENTREM untuk Tekan Risiko Kerentanan Lansia

Ada 500 mahasiswa UI yang berangkat dari kampus Depok menuju lokasi aksi. 

Mereka menyuarakan delapan tuntutan pada pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat.

img_title Hari Pertama PJJ, Disdik Kerahkan Petugas Bersihkan Abu Vulkanik di Sekolah Depok

Mulai dari tuntutan menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga militerisme di ruang sipil.

Koorbid Sospol BEM UI yang juga koordinator aksi, Hafidz Haernanda mengatakan, tuntutan mahasiswa adalah penghentian penjajahan terhadap rakyat. 

img_title Ketika Semua Orang Bisa Viral, Siapa yang Masih Bisa Dipercaya? Begini Jawaban Pengamat UI

Karena menurut dia, setelah Indonesia dijajah oleh Belanda dan Jepang, saat ini rakyat kembali dijajah namun oleh pemerintah.

"Hentikan penjajahan negara atas rakyat, karena kami merasa saat ini setelah kami dijajah oleh Belanda dan Jepang, kok sekarang merasa masih dijajah oleh pemerintah," katanya, Selasa (18/8/2026).

Mahasiswa menyuarakan agar harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) diturunkan.

Kemudian menghentikan pemusatan kekuasaan dan memberikan otonomi seluas-luasnya ke daerah.

"BEM UI punya tesis bahwa Prabowo ingin menjadi Soeharto, dalam arti lebih luas lagi dia ingin mengambil seluruh kekuasaan yang ada dalam pusatnya. Dia sedang mengambil oligarki-oligarki lokal, kita bisa lihat dari berbagai macam kebijakan yang dibuat," ujarnya.

Selain itu, mahasiswa menuntut agar ruang sipil tidak dikuasai militerisme. Menurut Hafidz, tidak ada urgensinya pemerintah membangun Batalyon TP di tiap kabupaten/kota karena bukan itu yang dibutuhkan rakyat.

"Kami meminta hentikan seluruh intervensi TNI Polri di ruang sipil dan hentikan pembangunan Batalyon TP yang sudah dibuat," tegasnya.

Hafidz menuturkan, selain adanya militerisasi yang menguat dan aparat yang masuk ke ruang sipil, mahasiswa melihat ada banyak pembangunan batalyon yang dibuat di tiap kabupaten.

"Sedangkan yang dibutuhkan negara ini bukan seperti itu, tapi kesejahteraan dimana semua anak bisa makan bergizi gratis tanpa keracunan, semua anak kecil di Indonesia bisa membeli alat tulis dan menjaga kesehatan mentalnya supaya tidak bunuh diri seperti yang terjadi di NTT," pungkasnya.