6 Veteran Garis Keras Iran Pimpin Pertempuran, Strategi Teheran Bikin AS Berantakan
- Istimewa
Siap – Perseteruan antara Iran dan Amerika Serikat belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Kedua negara tersebut kini tengah berseteru soal pengelolaan Selat Hormuz.
Kondisi ini kian memanas setelah Presiden AS Donald Trump sesumbar, menyebut Selat Hormuz bakal menjadi bagian dari wilayah Amerika. Lantas benarkah demikian?
Dilansir dari kanal YouTube Kompas, konflik antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz tak cuma memanas di lautan, tetapi juga membongkar kerapuhan di internal kubu Paman Sam.
Kondisi kian pelik ketika prajurit di kapal induk USS Abraham Lincoln dilanda krisis logistik dan kecemasan mental.
Di saat bersamaan, diplomasi AS merenggang setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang Omen yang berusaha menjadi penengah.
Stok rudal bawah tanah Republik Islam Iran
- Istimewa
Sementara itu, Republik Islam justru makin kokoh menguatkan militer demi bersiap menghadapi perang jangka panjang.
Inilah bukti bahwa Teheran sukses membuat Washington keteteran dan berantakan dari segala sisi.
Beban perang yang berkepanjangan di Selat Hormuz kini benar-benar menguji daya tahan militer AS.
Melansir The Wall Street Journal, kapal induk USS Abraham Lincoln tercatat telah beroperasi selama lebih dari 250 hari di laut.
Armada tempur ini bahkan belum pernah bersandar di pelabuhan satu kalipun selama 200 hari terakhir.
Rekor masa penugasan yang sangat panjang ini perlahan mulai berdampak buruk bagi seluruh personel di atas kapal.
Senator AS Richard Blumenthal memaparkan penurunan kondisi kehidupan para prajurit di atas kapal induk itu.
Kata dia, para prajurit saat ini harus berhadapan langsung dengan krisis pasokan makanan dasar.
Selain itu, terjadi kontaminasi pada saluran air bersih serta penyumbatan saluran pembuangan kotoran yang meluas.
Tekanan fisik akibat penugasan tanpa henti ini juga memicu penurunan kesehatan mental yang cukup signifikan di kalangan awak militer.
Menanggapi berbagai kritik dan laporan yang beredar, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth memberikan klarifikasi.
Ia menjelaskan, situasi di atas kapal induk USS Abraham Lincoln sebenarnya telah disalah artikan oleh publik dan media.
Pete Hegseth mengklaim, komando militer selalu memastikan setiap kapal dan awaknya mendapat dukungan pasukan logistik yang mencukupi selama bertugas.