Iran Bersiap Perang Panjang, AS Dikabarkan Buka Opsi Serangan Nuklir, Sinyal Pertempuran Paling Mengerikan?

Potret ilustrasi perang Iran dan Amerika Serikat (AS).
Sumber :
  • Gemini AI

Siap –Penunjukan enam komandan senior di jantung militer dan keamanan Iran oleh Mojtaba Khamenei mengirimkan pesan tegas kepada dunia:

img_title Selat Hormuz Jadi Medan Strategis, Iran Mulai Membatasi Ruang Gerak Negara Pendukung AS

Teheran sama sekali tidak berencana menutup lembaran konflik. Langkah strategis ini mengindikasikan bahwa Republik Islam Iran sedang mempersiapkan diri untuk konfrontasi jangka panjang.

Para tokoh yang baru diangkat ini membawa pengalaman panjang di medan tempur, intelijen, hingga pertempuran asimetris.

img_title Iran Peringatkan AS, Serangan ke Aset Energi Teheran Bisa Picu Perang Lebih Luas

Sina Toossi, peneliti senior non-residen (senior non-resident fellow) di Center for International Policy (CIP), membaca penunjukan ini sebagai upaya Teheran mengubah luka perang menjadi pelajaran berharga untuk menghadapi konfrontasi yang lebih panjang.

Mojtaba, yang menggantikan ayahnya Ayatollah Ali Khamenei pada Maret lalu, kini terlihat aktif menyusun kekuatan kekuasaannya sendiri di tengah situasi negeri yang masih bernapas dalam suasana perang.

img_title Iran Kecam Sikap Kanada yang Pro Amerika: Padahal Kerap Ditindas AS

Struktur militer dan keamanan ditata ulang secara menyeluruh, dengan menempatkan para veteran terpercaya di titik-titik strategis agar mesin kekuasaan lebih siap menghadapi gelombang konflik berikutnya.

Toossi menekankan bahwa jalur diplomasi sebenarnya tetap ada di meja Teheran. Namun, langkah diplomasi itu ditempuh bukan karena Iran menganggap perang telah usai, melainkan dengan kesadaran penuh bahwa konflik masih bisa memanjang.

Pergeseran fokus ini semakin terlihat jelas dari penunjukan Mohsen Rezaei sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC).

Rezaei menggantikan Mohammad-Bagher Zolghadr yang dikenal dekat dengan Ketua Parlemen sekaligus negosiator utama, Muhammad Bagher Ghalibaf.

Menurut Muhanad Seloom, Asisten Profesor di program Critical Security Studies (Studi Keamanan Kritis) di Doha Institute for Graduate Studies, langkah ini menggeser timbangan kekuasaan sipil-militer Iran ke arah kubu perlawanan.

Rezaei juga berpotensi memimpin tahap negosiasi berikutnya dengan Amerika Serikat, sehingga jalur diplomasi berada makin erat di bawah arahan pimpinan tertinggi.

Di sinilah letak perubahan besarnya. Hal ini bukan hanya soal strategi apa yang akan dipakai, tetapi juga tentang siapa yang memegang kemudi saat strategi itu dijalankan.

Meski retorikanya makin ofensif, para analis mengingatkan bahwa ini belum tentu berarti Iran bakal langsung melancarkan serangan skala besar dalam waktu dekat.

Halaman Selanjutnya
img_title