6 Syarat Keras Iran Bikin AS Bimbang, Salah Jawab Auto Perang Panjang
- Istimewa
Siap – Presiden AS Donald Trump sesumbar, dengan mengatakan bahwa Selat Hormuz sudah berada di bawah kendali Amerika Serikat, bukan lagi Republik Islam Iran.
Namun nyatanya kondisi di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya.
Selat Hormuz masih terkunci dan Iran belum mau membuka jalan bagi kapal-kapal yang melintas.
Tak hanya itu, Teheran bahkan memasang enam syarat keras mulai dari penghentian serangan, penarikan pasukan AS hingga pencabutan sanksi dan kompensasi perang.
Dikuti dari kanal YouTube Kompas, di saat tekanan Washington mulai mereda, Teheran justru menegaskan dirinya siap menjalani konflik dalam waktu panjang.
Masalahnya, kebuntuan di Selat Hormuz bisa menentukan arah perang dan perundingan damai kedua negara.
Lantas apa saja enam syarat yang diajukan Iran?
Dan mampukah sang Adidaya menghadapi perang panjang yang kian menguras tekanan ekonomi dan militer?
Syarat Keras Teheran
Teheran tidak hanya menahan pembukaan kembali Selat Hormuz, namun juga menyodorkan enam syarat yang harus dipenuhi Washington sebelum akses pelayaran dibuka.
Laporan Al Jazeera pada Selasa, 11 Agustus 2026 menyebut enam tuntutan itu diumumkan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dan langsung menyentuh inti konflik dengan AS.
Pertama, Teheran menuntut penghentian ancaman, hinaan dan tekanan terhadap Republik Islam.
Stok rudal bawah tanah Republik Islam Iran
- Istimewa
Ke-dua, serangan terhadap Iran dan sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, serta Irak diminta dihentikan secara permanen.
Ke-tiga, blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran harus dicabut disertai penarikan pasukan laut dan udara Amerika dari sekitar Republik Islam.
Ke-empat, Teheran menuntut kompensasi atas kerusakan akibat dua perang yang disebutnya dipaksakan terhadap Republik Islam.
Ke-lima, sanksi Amerika Serikat harus dicabut. Dan keenam, aset Iran yang dibekukan harus dilepaskan tanpa syarat.
Di tengah tuntutan tersebut, Teheran mengklaim pembicaraan dengan Oman mengenai pola pelayaran baru di Selat Hormuz sudah memasuki tahap akhir, termasuk penentuan jalur yang akan digunakan kapal-kapal nantinya.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi juga menegaskan, Teheran tidak akan melakukan perundingan langsung dengan Washington.
Pesan antara kedua negara disebut tetap berjalan melalui perantara.