Pangkalan Hancur dan Pelaut Depresi Gegara Perang Iran, Ribuan Awak Kapal AS USS Abraham Lincoln Bertumbangan?
- Istimewa
Siap –Perang yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran melahirkan krisis kemanusiaan dan operasional yang serius di tubuh militer AS.
Kapal induk USS Abraham Lincoln kini berada dalam situasi pelik setelah jalur logistik utamanya lumpuh total.
Menurut laporan eksklusif New York Times yang ditulis oleh John Ismay, mantan perwira Angkatan Laut AS, mengungkapkan bahwa masalah besar ini bermula sejak jam-jam pertama peperangan.
Serangan rudal dan drone Iran menghancurkan fasilitas Angkatan Laut AS di Bahrain, pangkalan vital yang selama puluhan tahun menjadi pusat dukungan armada Amerika di kawasan tersebut.
Dampaknya terasa sangat cepat dan fatal. Hilangnya fasilitas logistik di Bahrain dan hilangnya akses ke Fujairah di Uni Emirat Arab karena keduanya kini berada dalam jangkauan rudal Iran memaksa Pentagon memindahkan pusat logistik ke pulau Diego Garcia di Samudra Hindia.
Jaraknya mencapai 2.200 mil dari Teluk Oman, lokasi utama operasi tempur AS.
Perubahan jalur pasokan yang sangat jauh ini memicu efek domino yang mengancam kondisi fisik dan mental para prajurit.
Kondisi tertekan ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pejabat Washington.
Senator Partai Demokrat Richard Blumenthal melayangkan surat kritis kepada Menteri Perang AS Pete Hegseth.
Ia menyoroti kekurangan kebutuhan dasar serta memburuknya kondisi kesehatan mental sekitar 5.000 pelaut USS Abraham Lincoln yang telah berada di laut selama hampir sembilan bulan tanpa satu hari pun cuti.
Berdasarkan aturan Angkatan Laut AS, komandan kapal sejatinya dapat mengajukan “drink day” hari istirahat dan rekreasi bagi awak yang telah berada di laut selama minimal 45 hari berturut-turut.
Secara teoritis, awak USS Abraham Lincoln sudah berhak mendapatkan lima kali kesempatan tersebut.
Namun, ketiadaan pelabuhan aman membuat masa rekreasi ini mustahil terwujud.
Hingga laporan diturunkan, juru bicara Armada Kelima Angkatan Laut AS menolak memberikan komentar.
Sikap prihatin para senator dan keluarga prajurit ini justru bertolak belakang dengan respons Gedung Putih.
Dalam pernyataannya di pangkalan udara Maryland pada Jumat, Presiden Donald Trump justru menepis kekhawatiran mengenai masa penugasan yang kelewat batas.