75 Persen Stok Rudal Iran Masih Utuh Buat Perang, AS Gigit Jari
- Istimewa
Siap – Pemerintah Iran memastikan bahwa mereka telah bersiap untuk perang dalam waktu yang panjang dalam menghadapi Amerika Serikat dan sekutunya.
Bahkan, Iran mengklaim lebih dari 75 persen kemampuan rudal dan drone-nya masih utuh dan siap digunakan untuk melawan Amerika Serikat.
Mengutip Middle East Monitor, Jumat, 14 Agustus 2026, pernyataan itu disampaikan oleh Wakil Komandan Angkatan Darat untuk urusan Eksekutif Iran, Brigadir Jenderal Ali Reza Sheikh.
Ia menggambarkan sistem drone Iran sebagai sesuatu yang telah menjadi mimpi buruk bagi musuh.
Disitat dari kanal YouTube Kompas, komentar Sheikh sangat kontras dengan penilaian Presiden AS Donald Trump pada bulan lalu yang menyebut hanya sekitar 21 hingga 22 persen rudal Iran yang tersisa.
Melansir The Jerusalem Post, laporan The New York Times pada Selasa menyebut Teheran mulai menyesuaikan cara mereka menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Potret ilustrasi Rudal Iran
- Istimewa
Seiring berjalannya perang, Teheran disebut menjadi lebih taktis dan terampil dalam serangannya.
Militer Republik Islam juga diam-diam mempelajari cara menghindari pertahanan udara AS.
Teheran sendiri selama 5 hari pada Juni lalu melancarkan serangan drone dan rudal bertubi-tubi ke pangkalan Amerika di Yordania untuk melumpuhkan pertahanan udara AS.
IRGC dilaporkan mengerahkan rudal yang secara tiba-tiba bisa mengubah arah target sehingga memaksa AS untuk menggunakan rudal pencegat yang jumlahnya terbatas.
Saat Teheran mengklaim masih punya 75 persen senjata yang utuh, Washington justru dilaporkan kehilangan banyak senjata andalan.
Selama perang melawan Republik Islam, militer AS diperkirakan telah kehilangan sekira 25 persen armada tempur dan 45 drone MQ-9 Reaper.
Mengutip Middle East Monitor, data anggaran publik menyebut sebelum perang dimulai, armada Angkatan Laut Udara AS memiliki sekitar 165 drone Reaper, sedangkan Korps Marinir mempunyai 20 pesawat.
Seorang legend Angkatan Udara AS, Letnan Jenderal David H. Tabor mengungkapkan kepada Senat pada Mei, bahwa jumlahnya telah turun menjadi sekitar 135 unit.
Kerugian itu terjadi karena militer AS jorjoran menggunakan rudal MQ-9 Reaper saat terbang di atas Iran dan di dekat Selat Hormuz.
Militer pun sampai membeli rudal MQ-9 Reaper yang tersisa dari persediaan General Atomics, perusahaan pengembangnya.