Voxstream dan ADKASI Bedah Tantangan Pemilu 2029: Berpolitik Hari Ini Tidak Cukup Modal Semangat
- Istimewa
Siap – Persaingan politik menuju Pemilihan Umum (Pemilu) 2029 diperkirakan semakin dinamis. Ada beberapa hal yang mempengaruhi itu, salah satunya perubahan perilaku pemilih.
Faktor lainnya yang juga menjadi sorotan yakni fragmentasi informasi, kemudian meningkatnya biaya politik.
Kondisi tersebut mempengaruhi partai politik serta calon anggota legislatif dalam menghadapi tekanan untuk menyusun strategi yang lebih terukur.
Popularitas dan intuisi, yang selama bertahun-tahun menjadi tumpuan utama kampanye di Indonesia, mulai dirasa tidak cukup sebagai dasar pengambilan keputusan.
Tantangan tersebut menjadi topik utama audiensi antara Voxstream dan Dewan Pengurus Nasional Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI) yang berlangsung di Jakarta pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Forum bertajuk Politik Berbasis Bukti Menuju Pemilu 2029 ini mempertemukan tiga elemen, yaitu asosiasi legislatif daerah, akademisi, dan pengembang platform intelijen elektoral.
Diskusi tersebut membahas pendekatan politik berbasis bukti (evidence-based politics) sebagai kerangka kerja bagi anggota DPRD Kabupaten yang akan berkontestasi kembali pada Pemilu 2029.
Ketua Umum ADKASI Siswanto, menegaskan, bahwa penguatan kapasitas anggota legislatif tidak dapat lagi mengandalkan pengalaman lapangan semata.
Menurutnya, praktisi politik tanpa dukungan analisis yang memadai akan bekerja tanpa arah, sementara pendekatan akademis tanpa keterhubungan dengan praktik hanya akan menghasilkan wacana tanpa eksekusi.
"Sinergi antara ADKASI dan Voxstream ini penting karena menjembatani dua sisi yang selama ini terpisah," kata Siswanto dikutip pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Menurutnya, praktisi politik tanpa data tidak bisa menetapkan perencanaan yang terukur, sementara akademisi tanpa keterhubungan dengan praktik hanya akan berhenti pada wacana.
"Banyak hal yang tidak bisa dikerjakan sendiri, dan akan jauh lebih kuat apabila dikerjakan bersama-sama," ujarnya dalam Diskusi Strategis: Politik Berbasis Bukti Menuju Pemilu 2029"
Siswanto mencontohkan situasi yang kerap ditemui di lapangan, di mana kandidat sudah bekerja keras dan anggaran kampanye telah dialokasikan dalam jumlah besar, namun hasil elektoral tetap tidak sesuai harapan.
Ia menilai persoalan semacam ini kerap berakar pada ketidaktepatan membaca preferensi pemilih.
Siswanto menilai, rakyat itu bukan memilih yang paling banyak beriklan, paling banyak modalnya, atau yang paling ribut pidatonya. Rakyat memilih yang paling mereka sukai.