AS Makin Menekan, Iran Justru Siapkan Skenario yang Tak Terduga

Potret ilustrasi perang Iran dan Amerika Serikat (AS).
Sumber :
  • siap.viva/AI

Siap – Tekanan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran belum menunjukkan tanda-tanda mampu memaksa Teheran mengubah sikap.

img_title Selat Hormuz Jadi Medan Strategis, Iran Mulai Membatasi Ruang Gerak Negara Pendukung AS

Di tengah tekanan diplomatik, ekonomi, dan militer yang terus berjalan, Iran justru menyatakan memiliki sejumlah tuntutan sebelum bersedia kembali membuka jalur perundingan dengan Washington.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengakui Washington telah menggunakan berbagai instrumen untuk menghadapi Republik Islam.

img_title Iran Peringatkan AS, Serangan ke Aset Energi Teheran Bisa Picu Perang Lebih Luas

Langkah tersebut mencakup pendekatan diplomatik, kekuatan militer, hingga tekanan ekonomi.

Dikutip dari kanal YouTube Kompas, Vance mengatakan penggunaan berbagai instrumen itu tidak terlepas dari penilaian Washington bahwa Iran merupakan pihak yang sulit diprediksi.

img_title Iran Kecam Sikap Kanada yang Pro Amerika: Padahal Kerap Ditindas AS

Menurut Vance, ketidakpastian tersebut berkaitan dengan sikap Teheran yang dinilai tidak memenuhi sejumlah kesepakatan sebelumnya.

Pernyataan itu disampaikan Vance dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis, 13 Agustus 2026.

Ia menjelaskan bahwa tekanan terhadap Iran diarahkan untuk mencapai dua kepentingan utama Amerika Serikat.

Pertama, Washington ingin memastikan Teheran tidak mengembangkan kemampuan nuklir.

Kedua, AS ingin memastikan negara-negara di kawasan Teluk tetap dapat memasok minyak dan gas ke pasar internasional.

Kelancaran pasokan energi tersebut dinilai penting untuk menjaga kestabilan harga di pasar global.

Vance menegaskan bahwa Washington tidak menggunakan seluruh instrumen tersebut secara sembarangan.

Menurutnya, setiap langkah disesuaikan dengan perkembangan situasi di kawasan dan dilakukan secara selektif.

Ia juga menyatakan bahwa Amerika Serikat saat ini masih berupaya mewujudkan kedua tujuan tersebut.

Meski demikian, Vance mengakui persoalan dengan Teheran belum sepenuhnya selesai dan konfrontasi kedua pihak masih berpotensi berlanjut.

Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap yang jauh lebih keras terhadap kemungkinan perundingan dengan Amerika Serikat.

Teheran menyatakan tidak ingin kembali bernegosiasi apabila Washington dianggap masih memiliki kecenderungan mengingkari kesepakatan.

Iran menyatakan pintu negosiasi baru dapat dibuka apabila Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan yang diajukan Teheran.

Tuntutan pertama berkaitan dengan penghentian ancaman. Iran meminta Washington tidak lagi mengeluarkan ancaman terhadap negaranya ataupun melakukan tindakan yang dianggap menghina identitas nasional dan nilai-nilai keagamaan Iran.

Syarat kedua menyangkut penghentian agresi. Teheran menuntut Amerika Serikat menghentikan secara permanen tindakan militer terhadap Iran maupun kelompok dan negara sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, serta Irak.

Halaman Selanjutnya
img_title