AS Ngaku Kelimpungan Hadapi Iran, IRGC Siap siap Perang Jangka Panjang?

Potret ilustrasi
Sumber :
  • Istimewa

SiapAmerika Serikat terus mengerahkan seluruh instrumen kekuasaannya demi menekan Iran. Namun hingga kini, berbagai langkah tegas Washington belum membuahkan hasil yang signifikan.

img_title Selat Hormuz Jadi Medan Strategis, Iran Mulai Membatasi Ruang Gerak Negara Pendukung AS

Alih-alih tunduk, Teheran justru menunjukkan ketahanan posisi yang kian sulit digoyahkan oleh AS maupun sekutunya.

Bahkan, Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, secara terbuka mengakui pengerahan seluruh instrumen tersebut.

img_title Iran Peringatkan AS, Serangan ke Aset Energi Teheran Bisa Picu Perang Lebih Luas

Langkah yang mencakup jalur diplomatik, militer, hingga ekonomi ini diambil lantaran AS menilai Republik Islam Iran sangat sulit diprediksi.

"Penguasa Iran terkadang membuat komitmen yang tidak mereka tepati. Mereka membuat kesepakatan, namun tidak menghormatinya," ujar JD Vance dalam wawancara khusus bersama Fox News.

img_title Iran Kecam Sikap Kanada yang Pro Amerika: Padahal Kerap Ditindas AS

Dalam kesempatan tersebut, Vance menerangkan bahwa tekanan strategis Washington pada dasarnya difokuskan pada dua tujuan utama.

Pertama, Memastikan Teheran tidak pernah mengembangkan atau mendapatkan senjata nuklir.

Kedua, menjamin negara-negara di kawasan Teluk tetap dapat memasok minyak dan gas ke pasar global demi menjaga stabilitas harga energi pasokan dunia.

Meski Vance mengklaim AS bertindak secara selektif dan strategis, ia mengakui bahwa konfrontasi langsung dengan Teheran masih akan berlanjut.

Sementara itu, data pasar global mencatat bahwa krisis jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz sempat memicu fluktuasi harga minyak dunia secara signifikan sebelum akhirnya tertahan oleh upaya blockade serta navigasi ketat militer internasional.

IRGC Bersiap Hadapi Perang Berkepanjangan

Menanggapi tekanan intensif AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membulatkan tekad untuk melakoni perang berkepanjangan.

Penasihat Utama IRGC, Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi, menyebutkan bahwa pasukannya siap bertempur dalam durasi panjang hingga masa jabatan Presiden Donald Trump berakhir.

Naqdi menilai perang berdurasi lama dapat memberikan efek jera serta kerugian finansial maupun logistik bagi AS.

Dalam wawancara terbaru media internasional, Naqdi mengungkapkan bahwa produksi rudal harian Iran saat ini bahkan melebihi jumlah rudal yang mereka luncurkan di medan konflik.

Selain itu, Naqdi memberi sinyal bahwa IRGC tidak menutup kemungkinan untuk memperluas cakupan operasi militer sesuai doktrin pertahanan offensif Iran.

"Kapanpun situasi menuntut dan perintah dikeluarkan, kita harus mampu memperluas operasi ke wilayah musuh dan melaksanakan misi jauh dari tanah air kita sendiri," tegas Naqdi.

Halaman Selanjutnya
img_title