CNG Merah Putih Jangan Sekedar Ganti Tabung LPG, Pengamat: Yang Harus Dibangun Adalah Ekosistemnya
- Istimewa
Siap – Rencana pengembangan gas alam terkompresi atau CNG Merah Putih sebagai alternatif energi rumah tangga dinilai memiliki peluang strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.
Hal ini sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi domestik.
Namun, kebijakan tersebut tidak boleh dipersempit hanya menjadi agenda mengganti tabung LPG 3 kilogram dengan tabung CNG.
Demikian disampaikan Peneliti Institut Energi Anak Bangsa, Habibie Satrio Nugroho.
Ia menilai pemerintah harus terlebih dahulu memastikan kesiapan ekosistem energi nasional.
Menurutnya, kebijakan itu perlu dimulai dari ketersediaan pasokan gas, infrastruktur distribusi, teknologi penyimpanan, standar keselamatan, regulasi, industri dalam negeri, mekanisme harga hingga kesiapan masyarakat.
Jangan sampai kita hanya mengganti tabung LPG dengan tabung CNG, tetapi struktur ketergantungan energinya tetap sama.
"Yang harus dibangun adalah ekosistemnya, dari hulu sampai hilir. CNG harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional, bukan sekadar produk pengganti LPG,” ujar Habibie.
Selama hampir dua dekade, LPG 3 kilogram telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Program konversi minyak tanah ke LPG yang dimulai pada 2007 berhasil mengubah pola konsumsi energi rumah tangga sekaligus mengurangi tekanan subsidi minyak tanah.
Namun, keberhasilan tersebut kemudian melahirkan persoalan baru. Berdasarkan bahan kajian yang menjadi dasar analisis ini, konsumsi LPG nasional pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun.
Sementara produksi domestik hanya berada pada kisaran 1,6–1,7 juta ton.
Struktur tersebut membuat sebagian besar kebutuhan LPG nasional harus dipenuhi melalui impor.
Habibie menilai, ketergantungan tersebut tidak hanya menyangkut neraca perdagangan, tetapi juga berdampak terhadap fiskal negara.
"Harga LPG bersubsidi yang dibayar masyarakat berada jauh di bawah harga keekonomiannya sehingga selisihnya harus ditanggung negara."
Di tengah persoalan tersebut, pemanfaatan CNG menawarkan alternatif karena Indonesia memiliki sumber daya gas bumi domestik yang dapat menjadi basis pengembangan energi rumah tangga.
Pengembangan lapangan gas baru, termasuk temuan gas besar di Kalimantan Timur serta proyek strategis seperti Blok Masela, berpotensi memperkuat basis pasokan gas untuk kebutuhan domestik.