Fadli Zon Minta Guru Besar Humaniora Tulis Sejarah Indonesia secara Utuh

Simposium Nasional Guru Besar Humaniora di FIB UI
Sumber :
  • istimewa

Siap Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon membuka Simposium Nasional Guru Besar (SNGB) Humaniora 2026.

img_title Ketika Semua Orang Bisa Viral, Siapa yang Masih Bisa Dipercaya? Begini Jawaban Pengamat UI

Acara digelar di Auditorium Gedung I Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI).

 

img_title Pengamat UI Ungkap Hasil Riset BNN: Ini Investasi Terbesar Sebuah Negara

Kegiatan ini diikuti  33 perguruan tinggi se-Indonesia. Acara digelar selama tiga hari sejak 11 - 13 Agustus 2026.

 

img_title Mahasiswa UI yang Tewas di Kosan Dikenal Aktif Kegiatan Kampus

Sejumlah pemilkiran dan gagasan dibahas dalam forum ini. Nantinya hasil dari simposium dijadikan bahan masukan untuk pemerintah.

 

Melalui sinergi erat antara perguruan tinggi dan pemerintah ini, Indonesia optimistis mampu menempatkan ilmu humaniora sebagai panglima dalam menjaga martabat peradaban serta memajukan kebudayaan nasional di era modern. 

 

Fadli Zon mengatakan, pemerintah siap berkolaborasi dan memfasilitasi setiap gagasan besar serta praktik kemajuan kebudayaan yang dihasilkan oleh para pakar dan cendekiawan.

 

​“Saya mendapat kehormatan untuk membuka Simposium Guru Besar Humaniora di FIB UI yang diikuti oleh 33 perguruan tinggi se-Indonesia untuk menghasilkan gagasan serta arah humaniora agar semakin relevan dan adaptif,” katanya, Rabu (12/8/2026).

 

Ia menuturkan, di era disrupsi digital ini fenomena kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) atau AI sebagai sebuah keniscayaan zaman yang tidak mungkin dihindari.

 

Menurutnya, penting untuk menempatkan teknologi kecerdasan sebagai instrumen pendukung. Sehingga AI bukan sebagai pemikir utama dalam peradaban manusia.

 

​“AI itu harus kita tempatkan sebagai alat atau instrumen untuk kepentingan kita, dan jangan justru mereka yang menjadi pemikir utama,” ujarnya. 

 

Menurutnya, esensi nilai-nilai kemanusiaan dan kedalaman peradaban merupakan domain unik yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin maupun algoritma cerdas.

 

​Meskipun menyadari adanya tantangan berupa pergeseran sektor kerja kreatif akibat kecerdasan buatan, Fadli Zon justru mendorong para praktisi budaya untuk terus berinovasi memunculkan kebaruan.

 

​Selain isu teknologi, Fadli Zon meminta para guru besar humaniora untuk menuliskan kembali sejarah kebangsaan Indonesia secara utuh, komprehensif, dan mendalam.

 

​“Sejarah kita ini belum banyak yang ditulis secara utuh, misalnya sejarah Majapahit, Sriwijaya, hingga Pajajaran yang memerlukan satu kajian komprehensif mulai dari ekonomi, politik, hingga budaya,” tuturnya. 

 

​Mengenai dinamika alokasi anggaran riset, Fadli Zon menjelaskan bahwa pemerintah menerapkan pendekatan interdisipliner yang mengawinkan disiplin ilmu humaniora dengan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Halaman Selanjutnya
img_title