Siaga Perang Total!, Mojtaba Khamenei Kerahkan Milisi Basij dan Benteng Perang Siber,Kiamat Militer AS-Israel Kian Nyata
- Istimewa
Siap –Langkah mengejutkan diambil Iran di tengah eskalasi konflik yang kian membara.
Tak lagi hanya mengandalkan militer konvensional, Teheran kini resmi mensiagakan kekuatan rakyatnya secara masif melalui pengerahan pasukan sukarelawan Basij langsung ke garis depan pertempuran.
Mobilisasi besar-besaran ini menjadi penanda kuat bahwa Iran siap menghadapi skenario pertempuran terbuka secara total.
Langkah ini diambil guna merespons dinamika geopolitik regional yang kian memanas di kawasan Timur Tengah.
Disitat dari laporan Tasnim, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei dikabarkan secara resmi memerintahkan mobilisasi dan peningkatan kesiapan seluruh komponen pertahanan nasional.
Instruksi tegas tersebut disampaikan secara langsung kepada Kepala Staf Umum yang baru, Ali Abdollahi.
Dari seluruh poin yang disampaikan, perintah pengerahan penuh milisi Basij di garis depan menjadi klausul paling krusial.
Langkah ini sekaligus mengirimkan sinyal bahaya yang nyata bagi Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, akan potensi kehancuran total yang mengintai kekuatan militer mereka.
Sebagai respons atas situasi yang makin kritis, seluruh elemen militer Iran diinstruksikan untuk merespons segala bentuk ancaman dengan cara yang sangat cepat, tepat, dan efektif.
Integrasi antara unit militer reguler seperti Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) dan elemen sukarelawan sipil menjadi fondasi utama strategi ini.
Strategi pertahanan anyar yang diterapkan Teheran tidak hanya berfokus pada ancaman fisik atau serangan militer konvensional semata. Mengantisipasi taktik modern, Iran kini memasang mode siaga penuh untuk membendung perang kognitif yang dilancarkan pihak lawan.
Pengerahan ini dirancang khusus guna mematahkan gempuran perang informasi, disinformasi, hingga propaganda Barat yang berupaya memanipulasi persepsi publik.
Pengalaman konflik modern menunjukkan bahwa perebutan narasi di media sosial dan ruang publik digital sama pentingnya dengan pertempuran di lapangan.
Di saat yang sama, kesiapan pasukan ditujukan untuk melumpuhkan ancaman hibrida kombinasi taktik tekanan mulai dari gempuran siber, boikot ekonomi, hingga operasi psikologis dari pihak asing. Peningkatan kapasitas pertahanan siber dilakukan untuk melindungi infrastruktur kritis negara dari potensi sabotase digital.
Melalui restrukturisasi menyeluruh ini, Iran berhasil mengukuhkan sistem komando tunggal yang jauh lebih solid, responsif, dan terintegrasi.