Zona Perang Iran vs Amerika Berpotensi Meluas, NATO Bakal Terdampak
- Istimewa
Siap – Konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi meluas hingga kawasan perairan Laut Mediterania. Kondisi ini membuat NATO terancam.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, serangan drone misterius yang menghantam pelabuhan Damietta di Mesir yang berada di dekat pintu masuk utara Terusan Suez pada akhir bulan lalu memunculkan ancaman baru terhadap stabilitas perdagangan dunia.
Melansir dari News Week, Kamis 30 Juli 2026. Hal ini sekaligus meningkatkan tekanan keamanan di kawasan yang menjadi benteng pertahanan sayap selatan NATO.
Serangan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas militer maritim kelompok Houthi di Yaman.
Kelompok tersebut kembali mengancam akan menutup akses melalui Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah dari sisi selatan.
Potret ilustrasi Rudal Iran
- Istimewa
Sementara itu, situasi di Selat Hormuz juga masih belum menemui kepastian meski proses negosiasi terus berjalan.
Jika ketiga ancaman tersebut terus berkembang secara bersamaan, kondisi ini dikhawatirkan dapat menghidupkan kembali memori krisis West pada 1956, sekaligus meningkatkan risiko negara-negara Eropa terseret lebih jauh ke dalam konflik regional.
Terusan Suez merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis dalam rantai pasok global.
Jalur ini dilalui sekitar 30 persen lalu lintas peti kemas dunia setiap tahunnya.
Maka dari itu, gangguan terhadap Terusan Suez berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang besar.
Meningkatnya ancaman keamanan di tiga titik strategis tersebut dapat mendorong perusahaan pelayaran dan penyedia jasa asuransi untuk menaikkan biaya pengiriman secara tajam.
Sebagian perusahaan juga berpotensi kembali mengalihkan jalur pelayaran dengan memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump soal perang Iran
- Istimewa
Peneliti senior di NATO Defense College, Dr. John R. Deni mengatakan NATO masih menghadapi ancaman dari dua arah utama, yakni Rusia dan ketidakstabilan dari selatan.
Menurutnya, sistem pertahanan rudal NATO sebenarnya telah lama dipersiapkan untuk menghadapi potensi ancaman dari Iran.
Hal tersebut terlihat dari penempatan radar di Turki serta sistem peluncur rudal di Rumania dan Polandia.
Meski Presiden AS Donald Trump berulang kali meminta negara-negara sekutunya memberikan dukungan militer penuh, sebagian besar anggota NATO di Eropa masih enggan terlibat secara langsung dalam operasi ofensif terhadap Iran.