Merinding, Ternyata Begini Detik-detik Pertemuan Rahasia Presiden Iran dan Mojtaba Khamenei
- Istimewa
Siap –Tensi politik di Iran sempat memanas sebelum akhirnya luluh dalam sebuah pertemuan tertutup.
Setelah melalui penantian yang cukup lama, Presiden Iran Masoud Pezeshkian akhirnya bisa bertemu dengan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei.
Pertemuan "sakral" itu beragendakan membahas penghidupan masyarakat dan masa depan negara.
Melansir dari media semi pemerintah Iran, Tasnim, Sabtu (9/8/2026), Pezeshkian bertemu dengan Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei saat ia memasuki tahun ketiga masa kepresidenannya.
Langkah ini sekaligus menjadi jawaban atas spekulasi publik terkait keretakan hubungan di jajaran pucuk pimpinan Iran.
Dalam pertemuan tersebut, Sang Pemimpin dan presiden bertukar pandangan secara rinci mengenai berbagai isu dan permasalahan negara, khususnya terkait pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat.
Sektor ketahanan nasional dan ekonomi menjadi pilar utama pembicaraan. Mereka juga membahas kondisi terkini dari "perang ketiga yang dipaksakan" serta prospek masa depan, perkembangan di bidang militer, solusi terkait pengamanan sumber daya dan pengelolaan pengeluaran, baik dalam mata uang rial, valuta asing, maupun energi, serta interaksi ekonomi dengan negara-negara asing.
Diberitakan sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan kantor pemimpin tertinggi tengah bersitegang.
Bahkan Pezeshkian tercatat sudah 28 kali mengancam akan mengundurkan diri apabila dirinya tidak juga diizinkan untuk bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Pertemuan yang dinanti tersebut akhirnya terwujud, namun dengan prosedur berbeda dari biasanya, yaitu secara sembunyi dan dalam waktu sangat singkat.
Pertemuan berlangsung di sebuah lokasi yang dirahasiakan.
Di sana, Pezeshkian dipindahkan dari kendaraannya sendiri ke kursi belakang sebuah mobil komersial berkaca gelap, tempat Khamenei rupanya sudah menunggu.
Prosedur pengamanan ekstra ketat menyelimuti momen tersebut.
Menurut sebuah sumber, suasana di lokasi itu cukup gelap sehingga kedua pria tersebut tidak dapat saling melihat, dan para pengawal Khamenei tidak mengizinkan adanya jabat tangan.
Percakapan pun berlangsung hanya melalui suara.
Perlakuan tersebut kabarnya membuat Pezeshkian marah karena ia menganggapnya sebagai tindakan yang mempermalukan dirinya.
Sementara itu, dalam pemberitaan berbeda, Pezeshkian menepis rumor bahwa ia berencana untuk mundur.