Iran Buka Suara soal Masa Depan Timur Tengah, Ada Seruan Mengejutkan

Potret ilustrasi konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Sumber :
  • Gemini AI

Siap – Situasi keamanan di Timur Tengah kembali menjadi perhatian setelah Iran menyerukan agar seluruh kekuatan asing yang masih berada di kawasan tersebut segera ditarik.

img_title Korsel Terjepit di Tengah Konflik Iran-AS, Ada Tekanan dari Trump dan Ancaman Teheran

Teheran menilai keterlibatan pihak luar menjadi salah satu faktor yang memperbesar ketidakstabilan regional.

Penasihat Senior Pemimpin Tertinggi Iran untuk Urusan Internasional, Ali Akbar Velayati, menyampaikan seruan tersebut pada Sabtu, 8 Agustus 2026.

img_title Diplomasi Iran-AS Kembali Mengemuka, Nasib Selat Hormuz Ikut Dipertaruhkan

Menurutnya, stabilitas kawasan akan lebih mudah diwujudkan apabila negara-negara Timur Tengah mampu menjaga keamanan tanpa intervensi asing.

"Dinamika terbaru mencerminkan ketangguhan angkatan bersenjata, ketabahan rakyat Iran, serta keberanian Poros Perlawanan," kata Velayati melalui unggahan di platform media sosial X.

img_title Terjebak Perang Iran: Korsel Pusing Ditekan Trump tapi Nggak Sanggup Hadapi Teheran

Velayati menilai perkembangan konflik terbaru semakin memperkuat pandangan Iran mengenai perlunya mengakhiri kehadiran pasukan asing di kawasan Timur Tengah.

"Kekalahan rezim Zionis dan Amerika Serikat makin memperkuat keyakinan bahwa pasukan asing, yang menjadi pemicu utama ketidakstabilan, harus segera meninggalkan kawasan ini (Timur Tengah)," ungkapnya, seperti dilansir Anadolu.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan hubungan dan koordinasi antarnegeri di kawasan sebagai salah satu cara untuk membangun sistem keamanan bersama.

Meski demikian, Velayati tidak menjelaskan secara rinci bentuk kerja sama regional yang dimaksud maupun mekanisme yang dapat diterapkan untuk mewujudkan keamanan bersama tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika kondisi geopolitik Timur Tengah masih berada dalam situasi rentan.

Ketegangan sebelumnya meningkat tajam pada 28 Februari setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan yang menyasar sejumlah fasilitas militer, nuklir, serta infrastruktur energi di Iran.

Serangan tersebut kemudian mendapat respons dari Teheran.

Iran melancarkan sejumlah gelombang serangan menggunakan rudal dan drone sebagai bentuk balasan terhadap aksi militer Amerika Serikat dan Israel.

Ketegangan yang terjadi kemudian mendorong upaya diplomatik untuk menghentikan kontak senjata.

Iran dan Amerika Serikat sebelumnya menandatangani nota kesepahaman atau MoU pada 18 Juni melalui proses mediasi yang melibatkan Pakistan dan Qatar.

Namun, kesepakatan tersebut belum sepenuhnya berhasil membuka jalan menuju penyelesaian akhir.

Proses perundingan dilaporkan masih menghadapi sejumlah hambatan yang membuat hubungan kedua negara tetap berada dalam kondisi penuh ketidakpastian.

Halaman Selanjutnya
img_title