Amerika Tak Lagi Punya Harga Diri, Legislator Iran Sebut Trump Cuma Diplomasi Teater

Ilustrasi Presiden AS Donald Trump terkait Iran
Sumber :
  • Istimewa

Siap – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengecam pernyataan kontradiktif Presiden AS Donald Trump tentang upaya negosiasi yang disertai dengan nada ancaman perang.

img_title Selat Hormuz Jadi Medan Strategis, Iran Mulai Membatasi Ruang Gerak Negara Pendukung AS

Disitat dari kantor berita Tasnim News, Qalibaf menyindir sikap Trump yang dinilai terus berubah-ubah antara ancaman aksi militer dan optimisme mengenai negosiasi.

Menurtunya, apa yang dilakukan Trump adalah "diplomasi teater."

img_title Iran Peringatkan AS, Serangan ke Aset Energi Teheran Bisa Picu Perang Lebih Luas

Ia juga mendesak Washington untuk mengakui fakta dan menghormati komitmennya, alih-alih menggunakan taktik tekanan dan sandiwara politik.

"'Serangan besar akan datang? Tunggu, lupakan saja, mereka ingin bernegosiasi. Itu adalah diplomasi teater yang terus berulang," kata Qalibaf dikutip pada Jumat, 7 Agustus 2026.

img_title Iran Kecam Sikap Kanada yang Pro Amerika: Padahal Kerap Ditindas AS

"Menggunakan intimidasi, pengingkaran janji, dan berita palsu sebagai alat penekan adalah strategi yang gagal," sambungnya.

"Akui fakta dan penuhi komitmen Anda. Kami tidak butuh lebih banyak sandiwara," timpalnya lagi.

Ilustrasi Presiden AS Donald Trump soal Iran

Photo :
  • Istimewa

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa negosiasi antara AS dan Iran telah berjalan dengan sangat baik. Ia menyebut, hasil negosiasi ini akan diketahui dalam waktu 48 jam. 

Dikutip dari kanal YouTube Kompas, pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan saat bertolak dari Los Angeles menuju Las Vegas pada Selasa, 4 Agustus 2026.

Trump mengklaim, bahwa pihak Iran telah menghubunginya dan meminta untuk berbicara. 

Menurutnya, Teheran kini ingin melanjutkan negosiasi dan mencapai kesepakatan dengan Washington. 

Trump sesumbar, komunikasi itu dilakukan Iran karena mereka tidak ingin mendapat serangan yang lebih keras, yakni jauh lebih mengerikan dari Perang Dunia Kedua.

"Kemajuan pesat telah dicapai. Mereka menghubungi saya dan berkata, "Tolong mari kita bicara." Mereka ingin bicara. Lucunya mereka tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Mereka selalu bilang, "Kami tidak mau bicara." Tapi ternyata mereka menelpon, mereka ingin bicara," katanya. 

"Kami sudah berkomunikasi. Mereka ingin membuat kesepakatan. Mereka tidak ingin terkena pukulan telak. Ini adalah pukulan terbesar sejak Perang Dunia Kedua. Seperti yang sudah saya katakan, mereka tidak menginginkannya, dan mereka melihat hal itu terjadi," sambungnya.

Pernyataan Trump muncul setelah perang kata-kata dengan Teheran yang mengeklaim pembicaraan dengan Iran sedang berlangsung.

Halaman Selanjutnya
img_title