Laporan Internal Amerika Bocor!! Trump Murka Amunisi Militer Menipis, Iran Sebut AS Cuma "Bermimpi"
- Istimewa
Siap –Rapat kabinet Amerika Serikat (AS) yang berlangsung di Camp David, Maryland, dikabarkan diwarnai ketegangan tinggi antara Presiden Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Ketegangan berawal saat Trump melontarkan pertanyaan tajam mengenai laporan kelangkaan persediaan persenjataan militer yang belum kunjung teratasi.
Berdasarkan laporan investigasi The Washington Post, Trump mengekspresikan rasa tidak puasnya karena merasa disesatkan terkait kondisi riil amunisi militer AS.
Trump sebelumnya meyakini bahwa masalah pasokan senjata telah rampung, namun mendapati kenyataan bahwa stok rudal pencegat pertahanan udara seperti Patriot dan THAAD berada dalam kondisi kritis.
Hegseth dilaporkan membela diri dalam pertemuan tersebut dengan menuding Wakil Menteri Pertahanan Stephen Feinberg sebagai pihak yang bertanggung jawab atas ketidakakuratan informasi yang diterima Presiden.
Kelangkaan pasokan amunisi taktis dan rudal jarak jauh ini ditengarai menjadi alasan utama Trump memilih menahan diri serta menunda rencana serangan militer berskala besar ke wilayah Iran.
Selama beberapa bulan konflik berlangsung, militer AS telah menghabiskan porsi besar persediaan senjata presisi mereka. Laporan independen memperkirakan proses produksi baru untuk rudal pencegat seperti Patriot memerlukan rentang waktu hingga dua tahun.
Meski demikian, pihak Gedung Putih melalui Juru Bicara Karoline Leavitt membantah keras laporan perselisihan tersebut dan menegaskan berita itu tidak benar.
Senada dengan Leavitt, Juru Bicara Senior Pentagon Sean Parnell menyatakan Hegseth tidak pernah menyalahkan Feinberg.
Trump sendiri menegaskan di platform pribadinya bahwa militer AS memiliki persediaan senjata yang memadai dan pabrik pertahanan tengah memproduksi pasokan baru secara masif.
Teheran Bantah Klaim Negosiasi Trump Di sisi lain, Trump sesumbar bahwa negosiasi antara AS dan Iran berjalan sangat baik usai ia mengklaim pihak Teheran menghubungi Washington untuk meminta pembicaraan damai.
Trump menyebut Iran mengupayakan kesepakatan karena enggan menghadapi gempuran militer berskala besar.
"Kemajuan pesat telah dicapai. Mereka menghubungi saya dan berkata, 'Tolong mari kita bicara.' Mereka ingin bicara. Lucunya mereka tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Mereka selalu bilang, 'Kami tidak mau bicara.' Tapi ternyata mereka menelpon, mereka ingin bicara," ungkap Trump saat bertolak menuju Las Vegas.