Pertumbuhan Ekonomi Tetap Solid, Penguatan Fondasi Ekonomi Menjadi Fokus Semester II
- Istimewa
Siap –Perekonomian Indonesia mencatatkan kinerja impresif dengan tumbuh sebesar 5,29 persen secara tahunan (year-on-year) pada triwulan II 2026.
Capaian ini melampaui konsensus pasar dan perkiraan para ekonom.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun, sementara PDB Atas Dasar Harga Konstan menembus Rp3.576,2 triliun.
Kinerja positif tersebut didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, belanja pemerintah yang tumbuh tinggi, serta berlanjutnya aktivitas investasi dan ekspor.
Di tengah gejolak ekonomi global dan dinamika geopolitik, capaian ini membuktikan bahwa permintaan domestik masih memiliki daya tahan ekstra dan mampu menjadi jangkar penopang ekonomi nasional.
GREAT Institute menilai capaian tersebut tidak terlepas dari berbagai kebijakan pemerintah dalam menjaga aktivitas ekonomi pada semester pertama.
Langkah ini mencakup strategi frontloading belanja negara, penyaluran stimulus konsumsi seperti pencairan gaji ke-13 ASN/TNI/Polri, penyaluran bansos, hingga stabilisasi harga energi.
Hasilnya, ekonomi triwulan II ini menjadi modal positif untuk mengonsolidasikan perekonomian pada semester II 2026.
“Pertumbuhan 5,29 persen merupakan kabar baik dan menunjukkan bahwa fondasi permintaan domestik masih cukup kuat. Di antara negara yang telah merilis data triwulan II, pertumbuhan Indonesia lebih tinggi dibandingkan China yang tumbuh 4,3 persen dan Arab Saudi yang tumbuh 4,8 persen. Capaian ini perlu dijadikan pijakan untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan sekaligus memperluas dampaknya terhadap pendapatan, penciptaan pekerjaan, dan kesejahteraan masyarakat pada semester II,” ujar Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Trisha Indraswari.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama perekonomian dengan tumbuh di atas 5 persen, atau tepatnya 5,06 persen.
Meski begitu, perkembangan positif ini perlu dibaca secara cermat bersamaan dengan tren keyakinan masyarakat.
Data menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen mengalami penurunan dari 127,0 pada Januari menjadi 117,8 pada Juni.
Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen turun dari 138,8 menjadi 126,4, serta Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja berada di level 101,8 yang mendekati batas netral.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa meski rumah tangga masih mampu mempertahankan tingkat konsumsinya, masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam melihat prospek pendapatan dan pekerjaan.