Selat Hormuz Mendidih! Trump Sesumbar Soal Kesepakatan, Iran: Lebih Mengerikan dari Perang Dunia Dua?
- Islamtimes
Siap –Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas dengan saling klaim yang tajam.
Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa negosiasi antara Washington dan Teheran berjalan sangat lancar, dengan hasil akhir yang diyakini akan terlihat dalam waktu 48 jam.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan saat bertolak dari Los Angeles menuju Las Vegas pada Selasa, 4 Agustus 2026, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Kompas.
Trump mengklaim bahwa pihak Teheran sendiri yang menghubunginya secara langsung untuk meminta ruang pembicaraan guna mencapai kesepakatan baru.
Menurut Trump, langkah Iran tersebut diambil karena Teheran panik dan ingin menghindari serangan militer AS yang diklaim akan jauh lebih mengerikan dibandingkan Perang Dunia Kedua.
"Kemajuan pesat telah dicapai. Mereka menghubungi saya dan berkata, "Tolong mari kita bicara." Mereka ingin bicara.
Lucunya mereka tidak pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Mereka selalu bilang, "Kami tidak mau bicara."
"Tapi ternyata mereka menelpon, mereka ingin bicara," kata Trump.
"Kami sudah berkomunikasi. Mereka ingin membuat kesepakatan. Mereka tidak ingin terkena pukulan telak. Ini adalah pukulan terbesar sejak Perang Dunia Kedua. Seperti yang sudah saya katakan, mereka tidak menginginkannya, dan mereka melihat hal itu terjadi," sambungnya.
Trump juga mengeklaim kedua negara telah menyetujui kesepakatan terkait jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Namun, klaim sepihak ini langsung dibantah keras oleh pemerintah Iran.
Teheran menegaskan pihaknya tidak pernah berunding secara langsung dengan Washington, melainkan membahas isu Selat Hormuz bersama Oman.
Perwira militer senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohsen Rezaei, memastikan negaranya tidak akan pernah berunding dengan AS mengenai pengelolaan Selat Hormuz.
Ia bahkan menegaskan siap melancarkan balasan militer yang menyakitkan jika AS berani bertindak agresif. "Sekarang tidak ada gencatan senjata, tetapi serangan kami memiliki arti.
Misalnya, kami sama sekali tidak akan membiarkan koridor kedua terbuka di Selat Hormuz, bahkan jika mereka membawa kapal induk, kami akan menyerang kapal induk itu," tegas Rezaei yang juga penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran.