Sesumbar, Trump Sebut Nasib Perang Iran Akan Ditentukan dalam 48 Jam

Ilustrasi Presiden AS Donald Trump soal Iran
Sumber :
  • Istimewa

"Jika mereka membawa pasukan militer, kami akan menyerang mereka. Untuk saat ini kami mengancam kapal-kapal agar tidak datang. Untungnya, banyak kapal mendengarkan ancaman kami dan berbalik, dan kami tidak terlibat pertempuran," ujarnya. 

img_title Teheran Ubah Kalkulasi Konflik, Strategi Baru Iran Bidik Kekuatan AS dari Banyak Arah

"Tetapi beberapa kapal, yang jelas-jelas berada di bawah tekanan penuh dari Amerika datang. Yah, mereka mengalami beberapa kerusakan, dan kemudian mereka sendiri berbalik," sambung dia.

Lebih lanjut Rezaei juga sempat menyinggung pernyataan Trump yang mengklaim tengah menyiapkan operasi besar yang jauh lebih mengerikan dari Perang Dunia Kedua untuk menyerang Republik Islam. 

img_title Bukan Sekadar Istilah, Trump Sedang Bangun Narasi Baru soal Konflik Iran, Begini Katanya

"Saya mendengar bahwa kemarin tampaknya Pak Trump mengatakan kita memiliki operasi yang lebih besar daripada Perang Dunia Dua, yang dia maksudkan adalah hal yang sedang saya bicarakan. Ya, Anda sedang bermimpi Pak Trump. Anda berada dalam mimpi dan fantasi," katanya.

"Mengapa itu (serangan) tidak dilaksanakan? Mengapa orang-orang Anda tidak menginjakkan kaki di lapangan? Tidak saya tidak dapat mengatakan, itu telah sepenuhnya dikesampingkan, tetapi pertama-tama itu telah menjadi sangat lemah dan probabilitasnya telah menurun," timpalnya lagi.

img_title Trump Geram soal Amunisi AS, Klaimnya di Tengah Perang Iran Bikin Geger

Sementara itu, militer AS dilaporkan telah menghabiskan hampir 80 persen amunisi pencegat untuk sistem pertahanan udaranya, yaitu jenis terminal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).

Kris persediaan amunisi ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong Presiden AS Donald Trump untuk membatalkan serangan balasan berskala besar terhadap Iran.

Seorang pejabat senior AS berkata pada CNN, Trump semula berencana melanjutkan serangan besar pada Jumat, 31 Juli 2026. 

Namun, Trump memutuskan untuk membatalkan serangan itu pada Sabtu, 1 Agustus 2026 setelah berkomunikasi dengan sekutu-sekutunya di Timur Tengah.