Trump Kena Karma, 'Mati Kutu' Lawan Iran, Tentara AS Diusir dari Yordania? Warga Ogah Jadi Tumbal
- Istimewa
Namun, pemerintah Yordania kini berada di persimpangan jalan yang dilematis.
Di satu sisi, Amman sangat bergantung pada bantuan ekonomi dan militer dari AS yang nilainya mencapai 1,65 miliar dolar AS per tahun.
Posisi geografisnya yang berbatasan langsung dengan Suriah, Irak, dan Israel kian memperjelas betapa rentannya Yordania di tengah eskalasi konflik.
Aliansi pertahanan dengan Washington yang tadinya diandalkan sebagai jaminan keamanan, kini justru menempatkan Yordania di garis depan pertempuran.
Ketegangan makin membara seiring ancaman bertubi-tubi yang diletupkan oleh Mohsen Rezaei, Penasihat Militer Pemimpin Tertinggi Iran.
Dalam wawancara televisi baru baru ini Rezaei menuding Washington tengah berupaya keras menguasai jalur pelayaran strategis Selat Hormuz demi mencaplok cadangan minyak dan gas milik Teheran.
Rezaei menegaskan militer Iran siap melancarkan balasan mematikan untuk membendung dominasi AS di perairan vital tersebut.
"Jika mereka membawa kapal induk, kami akan menyerang kapal induk itu. Jika mereka mengirim pasukan militer, kami akan menyerang mereka," katanya dalam siaran tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa gertakan militer Iran telah membuahkan hasil, di mana sejumlah kapal dagang memilih putar balik usai menerima peringatan tegas dari armada Iran.
Bahkan, beberapa kapal dikabarkan sempat mengalami kerusakan sebelum akhirnya memutuskan retreat dari zona perairan tersebut.
Tak berhenti di situ, Rezaei turut menanggapi klaim Presiden AS Donald Trump yang mengaku membatalkan rencana serangan besar-besaran demi membuka jalan bagi dialog dan negosiasi.
Bagi Rezaei, gertakan tersebut hanyalah isapan jempol semata.
"Anda sedang bermimpi, Tuan Trump. Jika operasi itu benar-benar ada, mengapa pasukan Anda tidak menginjakkan kaki di darat?" Katanya.
Penasihat militer tersebut kembali menyuarakan peringatan keras bahwa perlawanan Iran atas ambisi Amerika di Selat Hormuz berpotensi menyulut ledakan konflik yang jauh lebih luas.
"Kami tidak ingin memperluas perang. Namun, kami tidak akan membiarkan Selat Hormuz dikuasai Amerika Serikat," tegasnya.
Krisis Amunisi
Amerika Serikat (AS) dilaporkan berada dalam posisi serba salah. Cadangan sistem pertahanan udara Pentagon terkuras drastis hingga 80 persen setelah berbulan-bulan menahan gempuran intensif dari Iran.