Trump Kena Karma, 'Mati Kutu' Lawan Iran, Tentara AS Diusir dari Yordania? Warga Ogah Jadi Tumbal
- Istimewa
Siap –Penolakan besar besaran terhadap adanya militer Amerika Serikat (AS) di Yordania semakin deras.
Bahkan, publik Yordania mendesak pasukan Washington segera angkat kaki usai negara yang sebelumnya dikenal paling stabil di Timur Tengah ini terus-menerus menjadi sasaran serangan drone dan rudal yang dikaitkan dengan Iran.
Hal itu dipicu oleh kekhawatiran publik Yordania lantaran keberadaan personel Militer AS dinilai meyeret negara mereka dalam pusaran konflik regional.
Terlebih serangan drone dan rudal dilaporkan telah menghantam wilayah Yordania sejak Juli 2026, di mana seluruh serangan tersebut mengincar fasilitas militer milik Washington.
Salah satu insiden paling parah menghancurkan hanggar di Pangkalan Udara Raja Faisal dan merusak pesawat tempur F-15E Strike Eagle milik AS.
Iran disinyalir sengaja menjadikan Yordania sebagai target utama untuk menekan sekutu AS, sekaligus membalas peran Amman yang kerap membantu menggagalkan serangan udara menuju Israel.
Sontak dampak tersebut mulai memukul kehidupan sehari-hari warga lokal dan sektor perekonomian.
Sirene peringatan serangan udara makin sering meraung, sementara gangguan jadwal penerbangan mengancam sektor pariwisata tulang punggung ekonomi Yordania yang menyumbang sekitar 18 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Dalam pernyataan yang dirilis pekan lalu, para penandatangan memperingatkan bahwa kehadiran pasukan asing telah membuat Yordania rentan terhadap ancaman keamanan, politik, dan ekonomi.
Keberadaan pasukan asing itu di Yordania juga meningkatkan risiko negara tersebut terlibat dalam perang regional yang tidak memiliki kepentingan langsung.
"Berdasarkan tanggung jawab nasional kita dan sebagai pengakuan atas besarnya risiko yang dihadapi kawasan ini sebagai akibat dari peningkatan eskalasi militer, kami menuntut penarikan semua pasukan asing dari wilayah Yordania," demikian pernyataan tersebut.
Perwakilan warga Yordania itu menambahkan bahwa kehadiran pasukan asing termasuk AS "meningkatkan kemungkinan negara kita terlibat dalam konflik regional yang bukan merupakan bagian dari negara kita."
Merespons situasi yang kian memburuk, ratusan tokoh masyarakat bersama mantan anggota parlemen Yordania resmi menandatangani surat terbuka.
Mereka mendesak pemerintah Amman menarik seluruh pasukan asing agar Yordania tidak dijadikan tameng dalam perang pihak lain.