Stok Amunisi Terkuras Lawan Iran, Trump Ketar ketir, Potensi Konflik Terbuka dengan Rusia China dan Korut?
- Istimewa
Siap –Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berada di titik puncak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara tiba-tiba membatalkan operasi militer skala besar terhadap Iran.
Langkah mendadak ini memicu pertanyaan global: Apakah Washington benar-benar membuka pintu diplomasi, atau sekadar menata ulang strategi perang?
Nah kekinian beredar kabar bahwa hal tersebut dipicu oleh menipisnya cadangan amunisi ASÂ yang kian menipis.
Amerika Serikat (AS) dilaporkan berada dalam posisi serba salah. Cadangan sistem pertahanan udara Pentagon terkuras drastis hingga 80 persen setelah berbulan-bulan menahan gempuran intensif dari Iran.
Disitat dari laporan Anadolu Agency pada Kamis (6/8/2026), kondisi kritis ini dibocorkan langsung oleh seorang komandan senior militer AS.
Ia mengungkapkan bahwa persediaan amunisi strategis Washington kini berada pada tingkat yang sangat rendah dan mengkhawatirkan.
Berdasarkan laporan tersebut, Washington diperkirakan hanya memiliki sekitar 2.200 rudal Patriot dari berbagai varian serta 452 rudal THAAD.
Namun, akibat gempuran tanpa henti dari Teheran, militer AS telah menghabiskan hampir 80 persen rudal THAAD dan sekitar separuh dari total persediaan rudal Patriot.
Tak hanya itu, persenjataan berat lain seperti ATACMS, PrSM, hingga rudal jelajah Tomahawk juga telah digunakan dalam jumlah besar.
Penurunan drastis pasokan amunisi ini menjadi faktor kunci yang membuat Presiden Donald Trump mendadak membatalkan rencana serangan besar terhadap Iran.
Sebelumnya, Trump dikabarkan berencana melanjutkan operasi militer pada Jumat (31/7).
Bahkan, Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah memperoleh persetujuan akhir untuk meluncurkan serangan tersebut.
Namun, sehari setelahnya, Trump mendadak mengubah keputusan usai berkonsultasi dengan sejumlah sekutu AS di kawasan Timur Tengah.
Negara-negara Teluk menyuarakan kekhawatiran besar bahwa balasan Iran dapat meluluhlantakkan pangkalan militer hingga infrastruktur energi vital di wilayah mereka.
Selain desakan sekutu, pertimbangan tingginya potensi korban sipil di wilayah Iran serta peringatan dari pimpinan militer AS mengenai risiko operasi turut menggoyahkan keputusan Washington.
Trump akhirnya meminta Pentagon menunda operasi, meski opsi serangan di masa depan tetap terbuka.
Sejumlah pengamat menilai krisis amunisi ini mengancam kemampuan militer AS dalam jangka panjang.