Terungkap! Ini Penyebab AS Gagal Tundukan Iran Meski Sudah Berkali-kali Menyerang
- Gemini AI
Seorang pejabat kongres bahkan mengatakan militer Amerika Serikat belum memiliki pertahanan yang memadai untuk menghadapi drone syahid dalam skala besar.
Hal itu juga diakui oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
Ironisnya pola yang sama sebenarnya sudah terlihat saat negeri Paman Sam itu menghadapi Houthi di Yaman.
Rudal mahal terus digunakan untuk menjatuhkan drone berbiaya rendah.
Pentagon memang mulai mengembangkan Low-cost Unmanned Combat Attack System atau Lukas, drone murah dengan biaya 35.000 dolar Amerika Serikat.
Namun saat proyek itu berjalan, Iran disebut sudah lebih dulu menambah ribuan drone syahid ke dalam persenjataannya.
Media Iran bahkan menyebut dalam joda perang Tehan memproduksi 1.000 drone Syahid.
Di titik inilah banyak pengamat menilai Amerika Serikat bukan kekurangan senjata, tetapi terlambat menyesuaikan cara berperang dengan realitas baru di medan tempur.
Bisa jadi inilah saat ketika negara Adidaya harus menelan pil pahit yang selama ini selalu mereka hindari.
Bukan karena menang, bukan pula karena kalah di medan tempur, tapi karena semakin lama perang berlangsung, semakin besar harga yang harus dibayar Washington.
Ilustrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal Iran
- Istimewa
CNN menilai pilihan Trump kini tinggal satu yang paling mungkin ditempuh, yaitu menerima kenyataan bahwa pengelolaan Selat Hormuz harus dibicarakan melalui formula baru yang memberi ruang lebih besar bagi Iran.
Langkah ini memang menyakitkan, namun dinilai menjadi jalan tercepat untuk mengakhiri kebuntuan.
Pandangan serupa juga disampaikan analis Alan dalam tulisannya di Al Jazeera.
Menurutnya, Washington perlu membiarkan Pasal 5 memorandum kesepahaman yang ditandatangani pada Juni berjalan sesuai mekanisme yang disepakati.
Dialog antara Iran dan Oman dinilai jauh lebih berpeluang menghasilkan jalan keluar dibandingkan tekanan militer yang terus berulang.
Hasilnya memang belum pasti. Negara-negara teluk ingin kondisi kembali seperti sebelum perang.
Sedangkan Iran mendorong tatanan baru di mana mereka memiliki peran lebih besar dalam mengelola arus pelayaran di Selat Hormuz.
Pertanyaannya, apakah Presiden AS Donald Trump siap menerima kompromi yang selama ini selalu ia tolak?