Jenderal Perang Iran Sebut Ukraina Nyaris Diserang: Kami Sudah Kunci, tapi Mereka Lebih Dulu Minta Maaf

Penasihat militer senior Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei soal Ukraina
Sumber :
  • Istimewa

Siap – Ukraina nyaris menjadi target serangan rudal Iran. Hal itu disampaikan langsung oleh penasihat militer senior untuk Pemimpin Tertinggi Republik Islam, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei.

img_title AS Ngos-ngosan Hadapi Perang Iran, Temuan Pentagon Bertolak Belakang dengan Klaim Trump, Nah Loh

Adapun ketegangan tersebut muncul usai terjadinya serangan oleh pihak militer Ukraina terhadap kapal dagang Iran di laut Kaspia pada 25 Juli 2026. 

Lantas mengapa Teheran batal melancarkan serangan balasan terhadap Ukraina? 

img_title Tak Banyak Diketahui, Begini Operasi Nekat AS di Dalam Wilayah Iran

Mengutip Al Jazeera, Selasa, 4 Agustus 2026, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei menyebut, pihaknya sengaja membatalkan operasi untuk menyerang tiga lokasi di Ukraina usai Kyiv menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. 

Menurutnya, angkatan bersenjata Republik Islam telah menyelesaikan persiapan untuk serangan tersebut, sebelum operasi menghancurkan Ukraina itu akhirnya dibatalkan.

img_title Misteri Pilot F-15 AS di Iran: Nama Disamarkan Wajah Malah Terpampang Jelas TV, Pentagon Kebobolan?

"Mereka (AS-Israel) memaksa Ukraina untuk menyerang kapal kami di Volga. Mereka Ukraina pun menghubungi, bahwa tidak, ini adalah kesalahan. Kami (Ukraina) telah melakukan kesalahan."

Ilustrasi Ukraina minta maaf ke Iran

Photo :
  • Istimewa

Meski Ukraina sudah menyampaikan maaf dan mengakui itu adalah kesalahan yang tidak disengaja, namun Teheran akan melakukan investigasi.

"Karena kami telah bersiap untuk menyerang tiga titik di Ukraina yang kemudian setelah mereka bilang kami salah (akhirnya serangan dibatalkan)," katanya.

Rezaei menegaskan, kebijakan ini dilakukan karena Republik Islam memang pada dasarnya tak ingin memperluas medan perang.

"Karena kami benar-benar tidak mencari perluasan perang. Kami tidak ingin memulai hasutan perang. Sekarang tanggapan terhadap Ukraina sudah dibatalkan tapi kami sudah memeriksa kedua masalah tersebut," tegasnya. 

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mendesak Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha agar Kyiv memberikan ganti rugi dan kompensasi.

Araghchi juga menyampaikan, dalam sebuah unggahan yang menggambarkan serangan terhadap kapal kargo Teheran sebagai tindakan yang tak disengaja. 

Araghchi juga dilaporkan berbicara dengan diplomat senior Uni Eropa Kaja Kallas soal cara-cara untuk membantu mengurangi ketegangan di kawasan tersebut.

Sementara seorang analis yang dekat dengan pemerintah Republik Islam, Mehdi Rahmati menilai beberapa tokoh politik teheran menyerukan pembalasan terhadap Kyiv.

Sedangkan yang lain menyarankan untuk menahan diri. Menurutnya, Teheran tak akan mendapatkan apapun dengan menciptakan front baru dalam perang dengan Ukraina.

Dalam kesempatan itu, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei juga melontarkan peringatan keras terkait keamanan jalur maritim internasional.

Ia menegaskan bahwa negaranya takan mengizinkan pelayaran apapun melalui Selat Hormuz di luar rute yang telah ditentukan oleh otoritas Teheran.

Mantan komandan IRGC itu mengklaim, militernya telah berhasil menimbulkan kerugian besar bagi pasukan Amerika Serikat selama pertempuran 17 hari terakhir.

Rentetan serangan rudal dan drone Iran diklaim sukses menggagalkan sejumlah target militer AS di kawasan.

Eks Jenderal IRGC Sebut Trump Pemimpi 

Pemerintah Republik Islam menegaskan, bahwa tekanan politik maupun ancaman tidak akan mengubah sikap mereka dalam menghadapi berbagai isu strategis, termasuk menyangkut keamanan Selat Hormuz.

Penolakan itu memperlihatkan bahwa hubungan kedua negara masih berada pada titik yang sangat sulit untuk dipulihkan. 

Perwira militer senior dalam Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC, Mohsen Rezaei memastikan bahwa negaranya tak akan berunding dengan AS soal pengelolaan Selat Hormuz. 

"Sekarang tidak ada gencatan senjata, tetapi serangan kami memiliki arti. Misalnya, kami sama sekali tidak akan membiarkan koridor kedua terbuka di Selat Hormuz, bahkan jika mereka membawa kapal induk, kami akan menyerang kapal induk itu," tegasnya. 

Rezaei yang juga dikenal sebagai penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran itu memastikan, bahwa setiap agresi militer akan dibalas dengan balasan yang menyakitkan.

"Jika mereka membawa pasukan militer, kami akan menyerang mereka. Untuk saat ini kami mengancam kapal-kapal agar tidak datang. Untungnya, banyak kapal mendengarkan ancaman kami dan berbalik, dan kami tidak terlibat pertempuran," ujarnya. 

Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei

Photo :
  • Istimewa

"Tetapi beberapa kapal, yang jelas-jelas berada di bawah tekanan penuh dari Amerika datang. Yah, mereka mengalami beberapa kerusakan, dan kemudian mereka sendiri berbalik," sambung dia.

Lebih lanjut Rezaei juga sempat menyinggung pernyataan Trump yang mengklaim tengah menyiapkan operasi besar untuk menyerang Republik Islam. 

"Saya mendengar bahwa kemarin tampaknya Pak Trump mengatakan kita memiliki operasi yang lebih besar daripada Perang Dunia II, yang dia maksudkan adalah hal yang sedang saya bicarakan. Ya, Anda sedang bermimpi Pak Trump. Anda berada dalam mimpi dan fantasi," katanya.

"Mengapa itu (serangan) tidak dilaksanakan? Mengapa orang-orang Anda tidak menginjakkan kaki di lapangan? Tidak saya tidak dapat mengatakan, itu telah sepenuhnya dikesampingkan, tetapi pertama-tama itu telah menjadi sangat lemah dan probabilitasnya telah menurun," timpalnya lagi.