Dua Versi Cerita di Balik Pembatalan Serangan AS ke Iran, Antara Strategi atau Frustasi?
- Istimewa
Dua gugus tempur kapal induk AS masih bersiaga penuh di perairan Timur Tengah, didukung pengerahan sistem pertahanan rudal Aegis untuk mengantisipasi serangan balasan.
Penggunaan jet tempur siluman F-22 Raptor, F/A-18, hingga potensi keterlibatan pesawat pembom B-1 Lancer mencerminkan opsi militer yang tetap terbuka lebar.
Di pihak lawan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menyesuaikan taktik pertahanan dengan merelokasi sistem rudal presisi ke wilayah timur Iran yang bergunung-gunung untuk memanfaatkan keunggulan geografis.
Analisis Mantan Diplomat: Frustrasi Militer dan Benteng Alam Iran Mantan Duta Besar Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit menilai bahwa manuver Trump saat ini mencerminkan kondisi politik yang kian terdesak.
Menurutnya, dinamika yang terjadi bukan tentang seberapa besar Iran bisa menggempur AS, melainkan kemampuan bertahan dan membalas.
"Karena Iran tidak pernah menyerang yang ada dia bertahan dan membalas. Itulah bentuk perlawanannya," jelas Dian dikutip dari kanal YouTube tvOne.
Dian menambahkan bahwa Trump berlomba dengan waktu untuk membuktikan janji politiknya kepada konstituen di dalam negeri.
"Karena dia harus bisa menunjukkan perang ini dimenangi. Itu ambisi dia Amerika. Karena janjinya dia dari pertama akan menghancurkan Iran dalam seminggu, 2 minggu yang sampai sekarang ternyata tidak terbukti," ucap Dian.
Menurut analisisnya, perlawanan Teheran yang ulet membuat posisi Trump kian rumit.
Penggunaan serangan udara maupun kekuatan angkatan laut terbukti belum mampu menundukkan Teheran, sedangkan opsi pengerahan pasukan darat dinilai sebagai tindakan bunuh diri secara militer.
Salah satu target utama AS adalah fasilitas nuklir di Isfahan.
Namun, faktor geografis Iran yang memanfaatkan benteng gunung batu menjadi kendala utama bagi intelijen dan amunisi penembus AS.
"Tinggal satu alternatif yang bisa digunakan untuk membuktikan situs-situs nuklirnya Iran hancur karena serangan yang tahun lalu hanya merusak, dan yang dirusak hanya satu yang agak parah, dua lainnya tetap bisa beroperasi. Di Iran itu pertahanannya di dalam gunung batu. (Serangan AS) enggak akan mampu menembus kecuali dengan GBU 57 (bom konvensional raksasa) itu sasarannya sama tepat, dan harus berkali-kali pakai itu," jelasnya.