Iran Tolak Berunding, Trump Beri Ultimatum Keras: Ini Kesempatan Terakhir

Ilustrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal Iran
Sumber :
  • Istimewa

Sebab gangguan terhadap aktivitas pelayaran dapat berdampak langsung pada pasukan energi internasional dan pergerakan harga minyak. 

img_title Babak Baru Perang Iran-AS, Infrastruktur Militer Amerika di Teluk Jadi Target

Dalam beberapa tahun terakhir, Selat Hormuz berulang kali menjadi pusat ketegangan akibat meningkatnya aktivitas militer. 

Insiden terhadap kapal dagang hingga saling tuding antara Iran dan negara-negara Barat.

img_title Pangkalan AS Dibidik dari Berbagai Arah, Iran Lancarkan Serangan Lintas Negara

Karena itu, sikap Iran yang menolak pembahasan mengenai Selat Hormuz bersama Amerika Serikat kembali memunculkan kekhawatiran bahwa jalur strategis tersebut masih akan menjadi sumber ketidakpastian geopolitik. 

Hingga saat ini belum ada indikasi bahwa kedua negara akan melunak dalam waktu dekat. 

img_title Trump Bikin Usulan Tak Biasa soal Selat Hormuz, Iran Balik Menyindir

Iran tetap mempertahankan pendiriannya untuk tidak bernegosiasi di bawah tekanan.

Sementara Amerika Serikat terus menegaskan, bahwa jalur diplomasi masih tersedia apabila Teheran bersedia mengubah sikapnya. 

Kondisi tersebut membuat prospek perundingan kembali menemui jalan buntu. 

Sebelumnya, melalui unggahan di Truth Sosial pada Sabtu 1 Agustus 2026, Trump juga mengatakan bahwa Amerika Serikat telah membatalkan serangan terhadap Republik Islam. 

Namun keputusan tersebut ternyata memiliki syarat. Trump menginginkan kesepakatan dengan Teheran segera dicapai.

Ilustrasi kekuatan militer Amerika Serikat (AS).

Photo :
  • Gemini AI

Menurut Trump, Iran dan sejumlah negara lain di Timur Tengah sebelumnya meminta Amerika Serikat untuk menunda serangan. 

Ia juga mengatakan sejumlah batasan dalam kesepakatan disebut sudah disetujui, tetapi klaim tersebut langsung dibantah oleh Teheran. 

Kantor berita Maher News menyebut, Teheran tidak pernah meminta Amerika Serikat menunda aksi militer.

Pejabat militer dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan, bahwa mereka tidak pernah mengirimkan permintaan kepada AS maupun negara-negara tetangga untuk menunda atau membatalkan serangan tersebut.

Mereka bahkan menilai klaim Trump sebagai kebohongan baru. 

Artinya sejak awal sudah terlihat bahwa Washington dan Teheran memiliki versi yang berbeda mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik pembatalan serangan tersebut.

Pembatalan serangan ini terjadi setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Israel sedang merencanakan serangan baru yang jauh lebih intensif terhadap Republik Islam.

Hingga kini, ketegangan masih menyelimuti kawasan Timur Tengah. Belum ada tanda-tanda konflik mereda.