Frustasi Lawan Militer Iran, AS Pilih Serang Rumah Warga Sipil dengan Bom Berat
- Istimewa
Siap – Amerika Serikat dituding telah telah menjatuhkan bom penghancur bunker berbobot hampir 1 ton ke sebuah rumah warga sipil di Pulau Qeshm, Iran dalam serangan udara yang berlangsung pada Kamis 30 Juli 2026.
Pemerintah Republik Islam Iran menyebut, serangan sporadis AS itu diklaim menewaskan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang baru berusia 2 tahun.
Disitat dari kanal YouTube Kompas, pernyataan itu disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei pada Senin, 3 Agustus 2026.
"Pekan lalu Amerika Serikat kembali mengirimkan apa yang mereka sebut sebagai 'bantuan'. Kali ini yang menjadi sasaran adalah seorang sopir taksi bernama Qaisar Jafari sama istri dan anak mereka yang baru berusia 2 tahun," katanya.
Ilustrasi kekuatan militer Amerika Serikat (AS).
- Gemini AI
"Adapun 'bantuan' itu berbobot sekitar 1.000 kg berupa bom penghancur bunker yang seharusnya digunakan untuk menghancurkan fasilitas militer dengan perlindungan tinggi, tetapi justru dijatuhkan ke sebuah keluarga Iran yang tidak bersalah," sambungnya.
Kejadian yang sama sebelumnya telah dilaporkan oleh New York Times pada Jumat, 31 Juli 2026.
Menurut analisis media asal Amerika Serikat itu, bom jenis Mark 84 seberat sekira 907 kg dijatuhkan ke kawasan permukiman padat di Pulau Qeshm.
Hasil analisis foto, video, dan citra satelit menyatakan lokasi serangan sesuai dengan area operasi militer Washington pada malam itu.
Serangan dilaporkan menewaskan satu keluarga serta membentuk sebuah kawah berdiameter sekira 9 meter.
Sementara itu, dua anak lain dalam keluarga tersebut dilaporkan berhasil dievakuasi dari reruntuhan.
Juru bicara CENTCOM, Kapten Angkatan Laut Timothy (Tim) Hawkins mengaku, pihaknya telah mengetahui laporan tersebut dan masih menyelidikinya.
Ia memastikan, bahwa militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil secara sengaja.
Ilustrasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal Iran
- Istimewa
Sementara itu, Jubir Menlu Iran, Baghaei kembali menyebut AS telah melakukan kejahatan perang usai menargetkan kawasan permukiman di wilayah Qeshm, Minap, dan Lamer.
Dalam konferensi pers yang sama, Baghaei juga membantah klaim Donald Trump terkait negosiasi yang tengah berlangsung antara Teheran dan Washington.
Bantahan itu menyusul pernyataan Trump sebelumnya, yang mengklaim AS membatalkan serangan terbesar, sejak perang dunia kedua karena Teheran ingin mencapai kesepakatan.