Kas Militer Iran Kritis Kena Sanksi AS, Tekanan Ekonomi Lebih Mematikan dibanding Serangan Militer, Benarkah?
- Istimewa
Siap –Lagi, Amerika Serikat (AS) kembali mengklaim bahwa tekanan ekonomi terhadap Iran akan membuahkan hasil dan menyebut bahwa kondisi ekonomi Teheran terancam krisis.
Sampai sampai, pemerintah Amerika Serikat meyakini bahwa strategi tekanan ekonomi yang agresif akan menjadi kunci utama meraih kemenangan dalam menghadapi Iran.
Pemerintah AS menilai bahwa efektivitas blokade finansial secara bertahap mampu melumpuhkan kekuatan Teheran tanpa harus bergantung sepenuhnya pada serangan militer terbuka.
Kondisi keuangan Teheran kini dilaporkan berada di titik kritis.
Bahkan, negara itu disebut-sebut tengah mengalami kesulitan finansial yang sangat berat hingga tidak mampu lagi membayar para pejuang yang menjadi bagian penting dari jaringan militernya di berbagai kawasan.
Dilansir dariblaporan Axios pada Selasa (28/7/2026), para pejabat tinggi di Washington mengungkapkan bahwa dampak blokade ekonomi berpotensi jauh lebih merusak dibandingkan operasi militer langsung.
Data intelijen terbaru mengonfirmasi bahwa kondisi perekonomian Iran terus memburuk secara signifikan, yang mulai mengikis kemampuan pemerintah dalam menjalankan aktivitas operasional dasar.
"Intelijen menangkap bahwa warga di sana mengeluhkan mereka tidak bisa membayar para pejuangnya," kata seorang pejabat dari Amerika.
Pejabat tersebut menegaskan bahwa keterpurukan ini bukan sekadar dampak langsung dari dinamika peperangan, melainkan hasil dari himpitan ekonomi yang kian kuat terhadap Teheran.
"Kebijakan ketat dari otoritas keuangan Amerika Serikat memegang peranan kunci dalam mempersempit ruang gerak arus modal negara tersebut. Mengapa? Karena tekanan finansial. Karena Kementerian Keuangan. Karena apa yang dilakukan Menteri Keuangan Scott Bessent," lanjutnya.
Pernyataan tersebut menyoroti efektivitas berbagai instrumen sanksi ekonomi dan pembatasan finansial yang diterapkan secara agresif oleh Washington.
Kebijakan ini berhasil mengisolasi sektor perbankan dan perdagangan Teheran, sehingga menempatkan stabilitas ekonomi domestik Iran dalam ancaman serius.
"Mereka berada dalam bahaya menghadapi penarikan dana besar-besaran di bank. Ada kelangkaan bensin di negara yang sangat kaya minyak ini," ujarnya.
Kelangkaan bahan bakar di tengah kelimpahan cadangan minyak bumi menjadi cerminan nyata dari krisis manajemen dan tekanan finansial yang melanda.
Dampaknya, psikologi kepemimpinan di Teheran kini bergeser, di mana ancaman sanksi ekonomi dipandang jauh lebih menakutkan dibandingkan pengerahan armada tempur.