Sinyal Tegas Iran ke AS, Mojtaba Khamenei: Tak Ada Perdamaian Sebelum Israel......

Potret ilustrasi
Sumber :
  • Istimewa

Siap –Makin meluasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa peluang perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat bergantung pada langkah Israel menghentikan serangan militernya di Lebanon.

img_title Bukan Sekadar Istilah, Trump Sedang Bangun Narasi Baru soal Konflik Iran, Begini Katanya

Sinyal tegas ini menjadi sorotan di tengah memanasnya peta geopolitik kawasan.

Pernyataan itu disampaikan Khamenei melalui media sosial X pada Minggu (26/7), di tengah laporan meredanya serangan dan kembali dibukanya jalur diplomasi antara Teheran dan Washington.

img_title Trump Geram soal Amunisi AS, Klaimnya di Tengah Perang Iran Bikin Geger

Langkah diplomasi ini dinilai banyak pihak sebagai titik krusial untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.

“Iran menetapkan perlindungan integritas wilayah Lebanon dan penghentian tanpa syarat agresi rezim Zionis sebagai syarat utama untuk mengakhiri perang yang dipaksakan,” tulis Khamenei dikutip Senin (27/7).

img_title Gertak Balik Amerika Serikat, Iran Peringatkan "Jurang Neraka" untuk Washington!

“Iran menetapkan perlindungan integritas wilayah Lebanon dan penghentian tanpa syarat agresi rezim Zionis sebagai syarat utama untuk mengakhiri perang yang dipaksakan,” tulis Khamenei.

Tidak hanya menyerukan penghentian agresi, Khamenei juga menyatakan dukungan terbuka terhadap kelompok Hizbollah, termasuk kepada mendiang pemimpinnya, Hassan Nasrallah, serta warga Lebanon selatan yang menjadi pusat serangan Israel.

“Iran menganggap pembelaan terhadap para pejuang yang tertindas namun kuat ini sebagai mandat strategis,” lanjutnya.

Situasi panas ini merupakan buntut panjang setelah Israel menginvasi Lebanon pada 2024.

Hingga kini, militer Israel masih menguasai sebagian wilayah selatan negara tersebut.

Meski sempat ada kesepakatan kerangka damai yang dimediasi AS pada 26 Juni, implementasinya berjalan tersendat.

Kesepakatan itu sebenarnya mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah pendudukan.

Sayangnya, dokumen tersebut disusun tanpa tenggat waktu yang jelas. Hambatan utama di meja perundingan memuncak ketika Israel memberi syarat tambahan. Israel disebut baru akan mundur setelah Hezbollah dilucuti, syarat yang langsung ditolak kelompok tersebut.

Sementara itu, Militer Lebanon menyebut pasukan Israel masih menghambat proses penarikan, termasuk menolak keluar dari zona yang telah ditentukan.

Di lapangan, operasi militer seperti pembuldoseran, penembakan, dan patroli bersenjata berat masih terus berlangsung.

Dampak kemanusiaan akibat bentrokan ini kian memprihatinkan. Konflik terbaru ini telah menelan korban besar.

Halaman Selanjutnya
img_title