Korban Perang AS Jadi Misteri, Klaim Iran dan Pentagon Bertolak Belakang
- Istimewa
Siap – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melontarkan klaim baru terkait jumlah korban militer AS.
Teheran menuding Washington tidak mengungkap angka korban sebenarnya dan menilai data resmi yang dipublikasikan Pentagon tidak mencerminkan kondisi di lapangan.
Berdasarkan wawancara dengan Tasnim News Agency pada Sabtu, 26 Juli 2026, Juru Bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi membantah laporan pemerintah Amerika Serikat mengenai jumlah personel militer yang tewas selama konflik berlangsung.
Menurut Mohebbi, data yang dirilis Washington tidak sesuai dengan fakta.
"Statistik Amerika mengenai jumlah korban jiwa adalah kebohongan belaka," tegas Mohebbi.
Ia menjelaskan, selama Operasi Nasr II yang berlangsung dalam dua pekan terakhir, pasukan Iran mengklaim berhasil menyerang delapan pusat penempatan militer Amerika Serikat.
Mohebbi menyebut, di salah satu lokasi serangan terdapat sekitar 20 tempat perlindungan yang hancur total akibat serangan balasan Iran.
Berdasarkan perhitungan pihaknya, jumlah tentara Amerika Serikat yang tewas diklaim telah melampaui 200 orang, sementara korban luka disebut jauh lebih banyak.
"Rakyat Amerika tidak boleh membiarkan komandan mereka yang berbohong berpikir bahwa mereka bodoh," ujarnya.
Ia juga mendesak pemerintah Amerika Serikat membuka akses bagi jurnalis internasional untuk melihat langsung lokasi-lokasi yang menjadi sasaran serangan agar jumlah korban sebenarnya dapat diverifikasi.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika operasi udara Amerika Serikat terhadap Iran disebut telah berlangsung selama 13 malam berturut-turut.
Mohebbi menuduh serangan Washington turut menyasar sejumlah lokasi sipil di wilayah Iran.
Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap berbagai target strategis milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, perhatian publik Amerika Serikat juga tertuju pada perubahan data korban yang ditampilkan Pentagon.
Laporan The New York Times menyebut situs resmi Pentagon sebelumnya mencatat 18 personel militer tewas dalam konflik yang diberi nama Operasi Epic Fury.
Namun, pada Kamis, data mengenai empat tentara yang dilaporkan tewas di Yordania dan Irak tiba-tiba tidak lagi muncul sehingga total korban yang tercantum berubah menjadi 14 orang.