Fakta Mengerikan Dibalik Perang AS-Iran Terkuak, Ratusan Tentara AS Tewas, Pentagon Ngaku Ada Ganguan Data?
- Istimewa
Siap –Klaim mengejutkan datang dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran yang menyebut Amerika Serikat telah kehilangan lebih dari 200 anggota militernya.
Pernyataan mendadak ini memicu sorotan tajam, terutama setelah Pentagon justru secara misterius merevisi jumlah korban tewas pasukannya dari 18 menjadi 14 personel.
Konflik memanas setelah Washington dinilai melanggar Memorandum of Understanding (MoU) yang disepakati di Islamabad.
Dalam wawancara dengan Tasnim News Agency pada Sabtu (26/7/2026), Juru bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi membantah keras laporan resmi Washington mengenai jumlah tentara yang gugur.
“Statistik Amerika mengenai jumlah korban jiwa adalah kebohongan belaka,” tegas Mohebbi.
Mohebbi menjelaskan bahwa dalam Operasi Nasr II aksi pertahanan Iran menghadapi serangan AS dalam dua minggu terakhir pasukan Iran menghantam 8 pusat penempatan pasukan militer AS.
Bahkan, dalam satu lokasi saja, terdapat 20 tempat perlindungan yang hancur total.
Menurutnya, jumlah korban tewas tentara Amerika melampaui 200 personel, belum termasuk jumlah korban luka yang jauh lebih tinggi.
“Rakyat Amerika tidak boleh membiarkan komandan mereka yang berbohong berpikir bahwa mereka bodoh," ujarnya.
Ia memintas pemerintah AS membuka akses bagi para jurnalis untuk melihat langsung pusat-pusat AS yang hancur agar dapat memperkirakan angka korban sebenarnya.
Pernyataan ini keluar di tengah gempuran serangan udara militer AS selama 13 malam berturut-turut.
Mohebbi menyebut serangan itu menyasar situs-situs sipil di Iran.
Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan gempuran besar-besaran terhadap target strategis Amerika di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, publik AS dikejutkan oleh langkah Pentagon yang mendadak mengubah data statistik.
The New York Times melaporkan situs web Pentagon semula mencatat 18 tentara tewas dalam konflik yang dinamai Operasi Epic Fury.
Namun, pada Kamis, data kematian empat tentara di Yordania dan Irak mendadak hilang, sehingga menyisakan 14 personel.
Pejabat sementara sekretaris pers Departemen Perang, Joel Valdez, beralasan perubahan itu terjadi akibat "gangguan data sementara" dan berjanji akan merapikannya.
Namun, hingga Jumat pagi Waktu Bagian Timur AS, angka di situs tersebut tidak berubah. Valdez juga berdalih, "Kematian mereka terjadi setelah Presiden Trump menyatakan gencatan senjata dalam perang pada bulan April."