AS Minta Berunding Lagi Gegara Banyak Korban Perang Iran, Pengamat: Inggris Mulai Merapat

Rudal balistik Republik Islam Iran
Sumber :
  • Tangkapan layar YouTube Kompas

Siap – Pengamat Hukum dan Hubungan Internasional, Abdullah Assegaf memprediksi bahwa perang antara Republik Islam Iran dengan Amerika Serikat tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

img_title Korsel Terjepit di Tengah Konflik Iran-AS, Ada Tekanan dari Trump dan Ancaman Teheran

Hal itu terjadi lantaran Amerika Serikat atau AS telah banyak melanggar nota kesepahaman yang sudah disepakati pada 17 Juni 2026, lalu.

"Sehingga dalam perspektif Republik Islam Iran, mereka tidak akan melewatkan kesempatan untuk memberikan kesempatan kepada Amerika Serikat," katanya dikutip dari kanal YouTube tv One pada Jumat, 24 Juli 2026.

img_title Diplomasi Iran-AS Kembali Mengemuka, Nasib Selat Hormuz Ikut Dipertaruhkan

"Nah, yang terjadi kan hari ini Amerika menginginkan untuk kembali ke meja perundingan. Ini ada pertanyaan, kenapa muncul permintaan perundingan?" tanya Assegaf. 

Menurutnya, itu terjadi karena banyak sekali korban di dalam pasukan Amerika Serikat akibat serangan rudal presisi dan drone Teheran ke pangkalan militer AS di Jordania, Kuwait, dan Qatar.

img_title Terjebak Perang Iran: Korsel Pusing Ditekan Trump tapi Nggak Sanggup Hadapi Teheran

"Artinya apa? Iran tidak menginginkan perang ini dihentikan hanya untuk memberikan Amerika untuk mengisi kembali amunisinya, agar melanjutkan petualangan perangnya yang tidak akan pernah mencapai tujuan untuk mengganti rezim yang ada di Republik Islam. Nah, saya kira itu," jelasnya.

Rudal Iran ancam pangkalan Amerika Serikat

Photo :
  • Tangkapan layar YouTube Kompas

Assegaf meyakini, Teheran sengaja memanfaatkan kesempatan ini untuk menunjukkan bahwasanya AS agar jangan terus bermain-main. 

Ia lantas menjelaskan, bahwa Washington sudah pernah bersepakat dalam join komprehensif plan of action tahun 2015, yakni perundingan selama 2 tahun terkait kesepakatan nuklir. 

Tapi lagi-lagi pada 2017 Trump menarik diri hingga kesepakatan batal. Dan juga yang terakhir pada Februari dan 17 Juni 2026.

"Artinya sudah ada empat kali kesepakatan dan Amerika keluar dari kesepakatan itu, melanggar kesepakatan itu." 

"Artinya apa? Berarti ini hanyalah strategi Amerika untuk mengumpulkan kekuatannya agar bisa mengoptimalkan dalam mencapai tujuannya yaitu apa? Mengganti rezim di Republik Islam," tuturnya. 

Assegaf menambahkan, dugaan ini diperkuat dengan kehadiran Inggris yang nampaknya sudah mulai masuk ke dalam arena peperangan.

"Perdana Menteri (Inggris) yang baru sudah mengatakan bahwasanya pangkalan-pangkalan militer kami secara terbuka akan siap menjadi bagian dari peperangan ini," katanya. 

Inggris juga telah mempersilakan pesawat dan kapal tangker untuk mengisi bahan bakar jet-jet tempur Amerika Serikat. 

Halaman Selanjutnya
img_title