Siapkan Dana Sampai Rp 1,7 kuadriliun Buat Perang Lawan Iran, AS Bakal Habis habisan?
- siap.viva/AI
Siap –Setelah menjalani proses yang sangat alot, akhirnya Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS) yang dikuasai Partai Republik resmi menyetujui proposal anggaran fantastis senilai US$ 95 miliar atau sekitar Rp 1,7 kuadriliun.
Dana raksasa ini dialokasikan untuk mendanai perang melawan Iran, memberikan bantuan kepada petani, serta mendorong sebagian agenda undang-undang pemilu Presiden AS Donald Trump.
Keputusan besar tersebut diambil melalui pemungutan suara yang berlangsung sangat ketat pada Rabu (23/7/2026).
Proposal lolos dengan kemenangan tipis 216 suara mendukung dan 214 suara menolak. Perpecahan di Tubuh Kongres Meskipun berhasil menembus DPR, langkah resolusi anggaran ini belum sepenuhnya aman.
Resolusi kini meluncur ke Senat AS untuk dibahas lebih lanjut, di mana peluangnya untuk lolos masih tergolong abu-abu. Penolakan keras datang dari seluruh anggota Partai Demokrat yang kompak memberikan suara nays.
Menariknya, keretakan juga terjadi di internal Partai Republik.
Dua anggota Partai Republik, Thomas Massie dan Warren Davidson, memilih membelot dan menolak rancangan tersebut.
Langkah serupa juga diambil oleh anggota independen Kevin Kiley yang selama ini berkoalisi dengan Partai Republik.
Sejumlah senator dari Partai Republik turut mempertanyakan perlunya tambahan pendanaan bernilai fantastis untuk perang melawan Iran tersebut.
Selain masalah angka yang membengkak, mereka menyoroti dimasukkannya ketentuan terkait pemilu dalam mekanisme rekonsiliasi anggaran yang digunakan untuk meloloskan rancangan itu.
Perang Iran Kian Menguras Kas Negara
Pemerintahan Trump diketahui mengajukan permintaan tambahan anggaran itu pada Juni 2026 ketika perang melawan Iran memasuki bulan kelima.
Eskalasi konflik Timur Tengah ini terbukti memakan biaya yang sangat mahal bagi stabilitas fiskal Washington.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperkirakan perang dengan Iran telah menguras kantong AS sekitar US$ 37,5 miliar atau sekitar Rp 671,3 triliun hingga saat ini.
Dengan potensi tambahan dana US$ 95 miliar ini, AS menegaskan komitmen militernya di kawasan tersebut, meskipun harus menghadapi penolakan sengit dan perdebatan politik yang memanas di dalam negeri.
Kini, mata publik tertuju pada Senat AS untuk menentukan nasib akhir dari paket anggaran raksasa ini.