Pakar UI Singgung Keamanan Digital: Padahal yang Perlu Kita Bangun Adalah Ketahanan Manusianya
- Istimewa
Hal itu mulai dari mengubah pengaturan privasi, memblokir akun, hingga melaporkan pelanggaran.
Namun penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa mereka merasa terlalu sering dibiarkan menghadapi risiko tersebut sendirian.
Inilah mengapa literasi digital tidak boleh dimaknai sebagai mengajari anak menggunakan internet.
Mila menegaskan, literasi digital adalah membangun kemampuan manusia untuk tetap menjadi manusia ketika berhadapan dengan teknologi.
"Yang kita bangun bukan sekadar digital skills, tetapi digital judgement,” tambah Wiratri Anindhita, peneliti Klinik Digital
Andhita Yukihana, pengawas Yayasan RKD, menilai hasil riset global Plan International dan CNN As Equals memberikan pelajaran penting bagi Indonesia.
“Sebanyak 67 persen remaja perempuan dalam penelitian tersebut mengatakan bahwa merekalah yang paling bertanggung jawab menjaga keamanan dirinya sendiri di internet. Angka ini patut menjadi refleksi bersama. Ketika anak merasa harus melindungi dirinya sendiri, berarti ekosistem pelindungan kita belum bekerja secara optimal.”
Menurut peneliti dan pengajar di Vokasi UI ini, pendekatan tersebut sangat selaras dengan arah kebijakan PP TUNAS yang menempatkan pelindungan anak sebagai tanggung jawab bersama.
“Anak tidak membutuhkan pahlawan digital. Mereka membutuhkan ekosistem digital yang sehat. Orang tua, guru, pemerintah, platform digital, media, komunitas, akademisi, hingga dunia usaha memiliki tanggung jawab yang sama. Ketahanan digital lahir dari kolaborasi, bukan dari satu aplikasi, satu regulasi, atau satu institusi.”
Giri Lumakto, Direktur Pengembangan Klinik Digital, qjuga menilai bahwa penguatan literasi digital perlu dilakukan menggunakan pendekatan komunikasi yang lebih inklusif.
Giri menegaskan, pengetahuan hanya akan menjadi kebijakan publik yang hidup apabila dipahami masyarakat. Karena itu, penerjemahan Buku Saku PP TUNAS ke dalam 20 bahasa daerah oleh komdigi dan klinik digital, bukan sekadar pekerjaan linguistik, melainkan strategi transfer pengetahuan.
Penelitian pendidikan menunjukkan bahwa manusia lebih mudah membangun pemahaman konseptual ketika pengetahuan baru dijelaskan melalui bahasa yang paling dekat dengan pengalaman hidupnya.
"Bahasa daerah bukan sekadar identitas budaya, tetapi jembatan kognitif yang mempercepat pemahaman dan perubahan perilaku," katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan temuan berbagai penelitian pendidikan bilingual yang menunjukkan bahwa penggunaan bahasa ibu membantu membangun pemahaman konsep, meningkatkan partisipasi belajar, dan memperkuat kepercayaan diri peserta didik ketika mempelajari pengetahuan baru.