Pakar UI Singgung Keamanan Digital: Padahal yang Perlu Kita Bangun Adalah Ketahanan Manusianya
- Istimewa
Siap – Selama bertahun-tahun, diskusi mengenai transformasi digital Indonesia lebih banyak diukur dari jumlah pengguna internet, kecepatan jaringan, hingga perkembangan kecerdasan artifisial (AI).
Namun bagi anak-anak Indonesia, ukuran keberhasilan transformasi digital sesungguhnya bukanlah seberapa cepat mereka terhubung ke internet, melainkan seberapa siap mereka hidup dengan aman, sehat, kritis, dan bertanggung jawab di dalamnya.
Pesan tersebut menjadi benang merah dalam kegiatan Tunas Indonesia Cakap Digital.
Agenda ini diselenggarakan Pusat Pengembangan Literasi Digital Badan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), bekerja sama dengan International Telecommunication Union (ITU), dalam rangka Hari Anak Nasional 2026 dan Girls in ICT Day.
Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital BPSDM Komdigi, Rizky Ameliah, memperkenalkan paradigma Anak Cakap Digital.
Menurutnya, perlindungan anak tidak cukup hanya dengan membatasi penggunaan gawai atau mengawasi waktu layar.
Anak perlu dibekali lima kompetensi utama yaitu menjaga privasi dan data pribadi, memahami jejak digital, menerapkan etika dan keamanan digital, memanfaatkan teknologi secara produktif dan kreatif, serta menjaga kesehatan mental di ruang digital.
Di saat yang sama, keluarga juga perlu memahami bahwa risiko digital anak tidak hanya berupa konten negatif, tetapi juga kontak dengan orang asing, eksploitasi sebagai konsumen, penyalahgunaan data pribadi, kecanduan digital, gangguan kesehatan mental, hingga dampak terhadap kesehatan mental.
Menurut Founder Klinik Digital dan Associate Professor Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati, perubahan paradigma tersebut sangat penting karena tantangan digital telah berubah secara fundamental.
“Selama ini kita terlalu sering berbicara tentang keamanan internet. Padahal yang sesungguhnya perlu kita bangun adalah ketahanan manusianya."
Devie mengatakan, teknologi akan terus berubah, algoritma akan terus berkembang, dan kecerdasan artifisial akan semakin canggih.
"Tetapi apabila manusia memiliki kemampuan berpikir kritis, menjaga privasi, memahami jejak digital, mengelola emosi, serta mampu mengambil keputusan secara etis, maka mereka akan mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi apa pun.”
Ketua Yayasan Ruang Karya Berdampak (RKD), Mila Viendyasari, yang menaungi Klinik Digital menjelaskan bahwa berbagai penelitian internasional menunjukkan anak-anak dan remaja sebenarnya telah mengembangkan berbagai strategi untuk melindungi diri.