Sesumbar, Mampu Kuasai 62% Minyak Dunia, Trump Acuhkan Gertakan Iran Soal Selat Hormuz?
- Istimewa
Siap –Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara tegas menyatakan bahwa negaranya sama sekali tidak bergantung pada Selat Hormuz.
Pihaknya menegaskan bisa menjaga ketahanan energinya sendiri di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang kian panas dengan Iran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan negaranya memiliki kapasitas produksi minyak yang sangat besar.
Faktor inilah yang membuat AS tidak membutuhkan jalur pelayaran strategis tersebut untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Ia menyebut negara tidak berada dalam posisi yang bergantung pada Selat Hormuz.
"Digabung dengan Venezuela, kami menguasai sekitar 62 persen pasar minyak dunia. Jadi kami tidak membutuhkan selat, kami tidak membutuhkan apa pun, kami tidak membutuhkan Selat Hormuz," kata Trump, dikutip dari Fox News, Kamis (23/7/2026).
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa perhatiannya terhadap kawasan strategis tersebut bukan semata-mata berkaitan dengan pasokan energi global.
Menurutnya, Washington memiliki kepentingan strategis yang jauh lebih besar, yakni memastikan senjata nuklir tidak akan pernah dimiliki oleh Iran.
"Tetapi kami melakukannya karena memang harus. Kami tidak bisa membiarkan mereka memiliki senjata nuklir," ujar Trump.
Ia mengklaim bahwa negaranya berada dalam posisi yang sangat unggul dalam menghadapi Iran.
Ia juga menilai berbagai langkah politik dan militer yang dilakukannya telah berhasil membatasi kemampuan mereka untuk mengancam kepentingan dari Amerika Serikat.
"Tetapi kami melakukannya karena memang harus. Kami tidak bisa membiarkan mereka memiliki senjata nuklir," ujar Trump.
Di sisi lain, respons keras datang dari pihak Teheran. Sebelumnya Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan negaranya tidak akan tinggal diam apabila keamanan nasional terus mendapat ancaman serius dari luar.
Ia menegaskan secara terbuka bahwa jika keamanan negaranya tidak dijamin, maka kondisi yang sama juga akan dialami oleh seluruh infrastruktur strategis di kawasan Timur Tengah.
Persamaan perang ini jelas: semua atau tidak sama sekali. Tidak seorang pun akan dapat menjual minyak di kawasan jika kami sendiri tidak dapat melakukannya.
Jika keamanan kami tidak terjamin, tidak ada infrastruktur yang akan aman," ungkap Qalibaf. Sebagai informasi pendukung, Selat Hormuz merupakan 'urat nadi' pasokan energi dunia yang menghubungkan produsen minyak Teluk Persia seperti Arab Saudi, Irak, UEA, dan Kuwaitnke pasar internasional.