Perang AS-Iran Makin Panas,Teheran Mendadak Berikan Sindiran Menohok ke Kuwait: Kalian Kini Menjadi Api Para Iblis?
- Istimewa
"Kita harus realistis dan menerima konsekuensi alami dari perlawanan ini."
Pernyataan tegas ini keluar saat Washington terus memperluas jangkauan serangannya ke berbagai wilayah Republik Islam, termasuk kawasan perkotaan yang menjadi lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melancarkan gelombang serangan balasan secara masif di seluruh kawasan Timur Tengah. Selain target di Kuwait, IRGC mengonfirmasi telah menggempur posisi militer AS di Bahrain, Yordania, hingga Suriah.
Otoritas Bahrain bahkan melaporkan bahwa Teheran turut menargetkan sistem navigasi udara mereka.
Trump Ancam Pembalasan Setimpal Menanggapi gugurnya tiga tentara AS baru-baru ini yang menambah total korban jiwa militer Amerika menjadi 17 personel hingga Presiden AS Donald Trump merespons keras.
Berdasarkan data Pentagon, selain korban tewas, hampir 100 anggota militer AS dilaporkan mengalami luka-luka sejak 7 Juli, mayoritas akibat gegar otak ringan.
Trump meluapkan kemarahannya melalui platform Truth Social dan berjanji akan menuntut balasan tinggi dari Iran.
"Setiap kali Iran membunuh seorang tentara Amerika, mereka akan membayar mahal atas pembunuhan itu!" tulis Trump.
"Arahan ini telah disampaikan kepada Menteri Perang Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Daniel Caine, dan setiap pemimpin di militer," tambahnya.
Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukan AS telah melancarkan gelombang serangan udara baru terhadap Iran.
Langkah ini, menurut CENTCOM, "dirancang untuk lebih melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal dagang di Selat Hormuz."
Dengan berbalas serang yang kian gencar di Selat Hormuz hingga kawasan Teluk, situasi keamanan global kini berada dalam ancaman krisis yang jauh lebih besar