Fakta Mengejutkan Dibalik Perang Iran, Konflik Paling Dibenci Warga AS dalam Sejarah, Trump Telah Jatuh ke Jurang?
- Gambar dibuat AI
Siap –Dunia kembali digegerkan dengan sebuah hasil survei tentang konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini tak berkesudahan, bahkan cenderung makin panas meski berbagai upaya untuk mencapai perdamaian terus diupayakan.
Perang Iran yang diluncurkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada akhir Februari lalu berpotensi berubah menjadi bencana politik besar.
Berbagai hasil survei terbaru menunjukkan konflik ini secara cepat menjadi salah satu perang paling tidak populer dalam sejarah modern AS.
Laju penolakan masyarakat terhadap aksi militer ini bahkan melampaui gelombang ketidaksukaan publik pada Perang Irak, Afghanistan, hingga Perang Vietnam.
Survei Washington Post-Ipsos yang dirilis pekan lalu mengungkap fakta mengejutkan. Sebanyak 68% warga Amerika menilai perang Iran tidak layak diperjuangkan, sementara hanya 28% yang menyatakan sebaliknya.
Hasil tersebut menciptakan selisih negatif sebesar 40 poin jauh lebih buruk ketimbang titik terendah dukungan pada Perang Irak maupun Afghanistan.
"Sebanyak 68% warga Amerika mengatakan perang Iran tidak layak diperjuangkan, sementara hanya 28% yang menilai perang tersebut layak dilakukan," tulis laporan survei tersebut, dikutip Rabu (22/7/2026).
Penolakan Tercepat dalam Sejarah Militer AS
Kecepatan perubahan opini publik ini menjadi pukulan telak bagi pemerintahan Trump.
Sebagai pembanding, pada Perang Afghanistan, mayoritas warga AS baru menganggap konflik tersebut tidak layak setelah berjalan hampir delapan tahun.
Sementara pada Perang Irak, butuh waktu sekitar satu tahun hingga suara mayoritas berbalik arah, dan hampir empat tahun hingga dua pertiga warga Amerika menganggapnya tidak layak diteruskan.
Sementara pada Perang Irak, butuh waktu sekitar satu tahun hingga suara mayoritas berbalik arah, dan hampir empat tahun hingga dua pertiga warga Amerika menganggapnya tidak layak diteruskan.
"Bahkan perang Irak tidak pernah kehilangan dukungan publik sebesar perang Iran," tegas analisis Washington Post.
Gelombang sentimen negatif ini juga tecermin jelas dalam jajak pendapat Washington Post-ABC News akhir April lalu.
Kurang dari dua bulan sejak invasi dimulai, 61% warga Amerika sudah mantap menyebut perang Iran sebagai sebuah kesalahan.
Padahal, Perang Irak baru dinilai sebagai kesalahan oleh mayoritas publik hampir empat tahun setelah invasi, sedangkan Perang Vietnam membutuhkan waktu lebih dari enam tahun untuk mencapai tingkat penolakan serupa.