Eskalasi Memuncak, Trump Isyaratkan Serangan Militer AS ke Gunung Pickaxe Iran dalam Waktu Dekat, Misi Ini Belum Selesai
- Istimewa
Siap –Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali berada di titik nadir.
Presiden Donald Trump secara terbuka memberi sinyal bahwa pasukan AS akan segera memfokuskan serangan ke area strategis Gunung Kuh-e Kolang Gaz La di Iran, yang populer dengan sebutan "Pickaxe".
Pernyataan bernada gertakan tersebut disampaikan Trump menjelang pertemuan pentingnya dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun pada Selasa (21/7/2026).
"Kita akan menyerang daerah itu kemungkinan besar dalam waktu dekat, dan tidak ada yang bisa mereka lakukan," kata Trump memeringatkan.
"Kita akan menyerang daerah itu segera, dan dengan sangat hebat." Sinyal eskalasi militer ini sejatinya telah berembus sejak pekan lalu.
Pada 15 Juli, The Wall Street Journal melaporkan bahwa presiden tengah mempertimbangkan opsi untuk memperluas operasi militer terhadap Iran.
Strategi tersebut mencakup kemungkinan pengerahan pasukan darat untuk merebut Pulau Kharg, hingga melancarkan gempuran langsung ke fasilitas bawah tanah di Gunung Pickaxe.
Konflik terbuka di kawasan Timur Tengah ini memicu kekhawatiran global setelah Amerika Serikat melancarkan beberapa gelombang serangan udara terhadap Iran sejak 8 Juli.
Pihak Komando Pusat AS mengklaim tindakan tegas tersebut merupakan respons atas campur tangan dan ancaman Iran terhadap keamanan pelayaran komersial di jalur vital Selat Hormuz.
Sebagai balasan, Teheran langsung merespons keras dengan meluncurkan serangan balasan yang menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Meski situasi kian membara, Trump menegaskan bahwa militer Amerika Serikat belum memiliki rencana untuk menarik diri dalam waktu dekat. Ia menyebut misi Washington "belum selesai sama sekali."
"Kami belum selesai sama sekali… Jadi jika kami pergi besok, kami telah meraih kesuksesan besar. Tetapi kami tidak akan pergi besok," kata Trump kepada wartawan.
Di luar eskalasi militer, Trump turut menyinggung konstelasi politik dan diplomasi di kawasan.
Ia mengantisipasi akan ada lebih banyak negara yang bergabung dalam Kesepakatan Abraham (Abraham Accords) dalam waktu dekat.
Secara khusus, Trump menyebut Lebanon memegang peranan krusial dalam peta perdamaian baru tersebut.