AS Tingkatkan Serangan ke Iran, Ancaman Trump Kembali Menggema
- Istimewa
Siap – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Washington melancarkan operasi militer terbaru yang menyasar sejumlah fasilitas militer Iran.
Serangan tersebut dilakukan di tengah memanasnya konflik yang telah menewaskan sejumlah personel militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Amerika Serikat melancarkan serangan balasan terhadap target militer Iran pada Senin, 20 Juli 2026, waktu setempat.
Operasi itu dilakukan hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran terkait kemungkinan respons yang lebih besar.
Peringatan tersebut muncul setelah tiga prajurit Amerika Serikat dilaporkan tewas dalam dua insiden berbeda di kawasan Timur Tengah.
Trump menegaskan telah menginstruksikan jajaran pimpinan militer Amerika Serikat untuk memberikan respons tegas apabila kembali terjadi serangan yang menewaskan personel militernya.
“Setiap kali Iran membunuh tentara Amerika, mereka akan membayar berkali-kali lipat,” tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.
Berdasarkan data resmi, tiga anggota militer Amerika Serikat menjadi korban jiwa dalam dua peristiwa terpisah.
Dua prajurit dilaporkan tewas akibat serangan rudal dan drone yang menghantam pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania.
Sementara satu personel lainnya meninggal dunia di wilayah Irak utara saat menjalankan misi menjinakkan bahan peledak yang diduga berasal dari Iran.
Dengan tambahan korban tersebut, jumlah personel militer Amerika Serikat yang tewas sejak eskalasi konflik meningkat dilaporkan mencapai 17 orang.
Pentagon juga mencatat hampir 100 personel militer mengalami luka-luka sejak 7 Juli, sebagian besar akibat dampak ledakan.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa operasi udara terbaru difokuskan pada sejumlah fasilitas militer strategis milik Iran.
Menurut CENTCOM, operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengganggu jalur pelayaran internasional, khususnya di kawasan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Donald Trump juga menyampaikan dukungan terbuka kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Trump menegaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat akan menjamin keamanan Netanyahu selama berada di wilayah yurisdiksi Amerika Serikat.