Timur Tengah Kian Memanas, Serangan Iran ke Pangkalan AS Picu Ancaman Trump

Potret ilustrasi perang Iran dan Amerika Serikat (AS).
Sumber :
  • siap.viva/AI

Siap – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah muncul rincian terbaru mengenai serangan rudal Iran yang menghantam pangkalan militer AS di Yordania.

img_title Trump Tantang Iran soal Selat Hormuz, Balasan Teheran Bikin Geger

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah personel militer Amerika dan memicu ancaman balasan langsung dari Presiden Donald Trump.

Menurut laporan The Wall Street Journal, dua pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa serangan balasan Iran pada Sabtu, 18 Juli 2026, menyasar Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.

img_title Amerika Jadi Target, Iran Siapkan Hadiah Ratusan Juta dan Bonus Khusus

Pangkalan tersebut dilaporkan menjadi target tiga gelombang serangan rudal balistik dalam rentang waktu 24 jam.

Dikutip dari Al Jazeera, laporan itu awalnya menyebut dua prajurit Amerika Serikat tewas akibat serangan tersebut.

img_title 6 Syarat Keras Iran Bikin AS Bimbang, Salah Jawab Auto Perang Panjang

Namun, perkembangan terbaru menyebut satu jenazah lagi ditemukan di lokasi kejadian dan saat ini masih menjalani proses identifikasi.

Serangan pertama dilaporkan menghantam gedung pusat kebugaran (gym) di dalam kompleks pangkalan tidak lama setelah sirene peringatan berbunyi.

Sejumlah personel militer mengalami luka ketika berupaya menyelamatkan diri menuju tempat perlindungan.

Gelombang serangan berikutnya menghantam hanggar pesawat yang saat itu dalam kondisi kosong.

Sementara rudal ketiga mengenai unit hunian prefabrikasi atau containerized housing units yang digunakan sebagai tempat tinggal personel militer Amerika Serikat.

Pentagon telah mengidentifikasi dua korban meninggal dunia, yakni First Lieutenant Tyler J. Feehan, berasal dari Hawaii dan Prajurit Isabella Gonzales, berasal dari Texas.

Sementara itu, identitas korban ketiga hingga kini masih belum diumumkan karena proses identifikasi masih berlangsung.

Selain korban tewas, satu personel militer Amerika Serikat juga dilaporkan masih berstatus hilang.

Peristiwa tersebut memicu reaksi keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Melalui unggahan di platform Truth Social pada Senin, 20 Juli 2026, Trump menegaskan telah memberikan instruksi kepada seluruh jajaran pimpinan militer.

Termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth, agar mengambil langkah tegas apabila kembali ada prajurit Amerika yang menjadi korban jiwa di Timur Tengah.

"Setiap kali Iran membunuh seorang tentara Amerika, mereka akan membayar mahal atas pembunuhan itu berkali-kali lipat," tulis Trump, seperti dikutip Anadolu Agency.